Sunday, 6 March 2016

Kita Tak Pernah Tahu

     Kita tidak pernah tahu, sayang, siapa yang kelak akan mengisi sela jari tangan kita. Menggenggamnya erat-erat. Entah, bahu siapa yang akan menjadi sandaran nyaman untuk mendengar setiap keluhan menjelang lelap. Atau, memberikan pelukan hangat saat dunia menatap sinis mengacuhkan.

     Kita tak pernah tahu, apakah ayah dan bunda baru kita akan peduli, sepeduli orangtua lahir kita. Apakah mereka akan menyayangi layaknya buah hati mereka. Mengasihi sepenuh hati mereka.

     Kita tak pernah tahu, bagaimana rupa dan wujud belahan jiwa kita kelak. Sombong, kah? Penyayang? Baik hati, arogan, penyabar, malas, rajin, atau galak sekalipun. Kita tidak pernah tahu itu sebelumnya.

     Sayang,
     Hari ini, hingga ku ketikkan sebuah tulisan ini, segalanya masih menjadi rahasia. Tolong, jangan berusaha mendahului. Hari esok masih terlihat abu-abu. Aku mohon, jangan bersikeras memaksa. Terkadang, kita yang tergesa-gesa. Terburu ingin segera tahu. Mendesak. Menggurui. Lalu beberapa saat kemudian berkata, "Kita tidak ditakdirkan untuk bersama." dan kita pun berlalu sia-sia. Itu yang kau inginkan, sayang? Entah.

     Kemarilah, mendekat. Biar aku kasih kau sebuah pengertian. Didalam hidupku, banyak yang telah berlalu. Si Peduli, si Rasional, si Baik, si Bocah, si Dewasa, si Perasa. Kau tahu, mereka berlalu dengan alasan yang sama, s.e.l.a.l.u sama. Apakah itu akan terjadi padamu juga, sayang? Entah.

     Memang, aku selalu mengabaikanmu, berpura-pura bodoh saat berada didepanmu. Tak salah, aku selalu membuatmu menangis sendirian, membuat perjuanganmu tampak tak berguna, memupuskan asa yang kau rawat setiap harinya. Benar, aku terkesan cuek padamu, tak mempedulikan teman-temanmu yang mencibir, ocehan setiap orang yang memberi sebutan "Gagal Move On".

     Sayang,
     Aku ingin kau menjawab pertanyaan ini. Apakah semua akan berjalan baik-baik saja seandainya ku ungkapkan cinta padamu, saat ini juga? Apakah takkan ada cemburu, gelisah, dan kecewa ketika kita "berjanji" untuk saling setia sebelum waktunya? Bukankah sekarang adalah waktu yang tepat untuk berfokus pada cita-cita dan keluarga?

     Harus aku katakan berapa ribu kali lagi padamu, pergilah sendiri jika kau tergesa. Aku masih bersiap, memantaskan diri untuk menjadi pelindungmu, menjadi imam untuk keluarga kecil kita, atau menjadi seorang laki-laki yang pantas dibanggakan oleh ayah dan bundamu kelak. Itupun jika kau bersedia.

     Sayang,
     Aku ingin kau tahu bahwa aku bukan seorang yang baik, tapi setidaknya aku telah berusaha untuk tidak menjadi seorang bajingan.

Wednesday, 23 September 2015

Selamat Menikah

     Pada akhirnya, semua bakal dihadapkan pada sebuah keputusan. Bertahan atau meninggalkan, menjadi pesakitan atau merajut senyuman. Konyol jika kau bertahan dalam penderitaan. Adalah keputusan yang tepat, memilih pergi dan mulai membangun kebahagiaan. Yang perlu kau tahu, bahagia itu mutlak.

     Pasti berat memilih untuk pergi. Tentu. Meninggalkan seluruh benih impian yang pernah kamu tanam dengan dia, seseorang yang amat kau cintai. Berharap benih itu tumbuh subur menjadi pohon yang rindang dimasa depan. Memang, kita selalu punya rencana. Menikah dengan si ini, mengurusi buah hati bersama si itu, menjadi ini, menjadi itu. Tersusun rapi. Apik. Namun, jika kehendak Sang Langit berbeda, apa mau dikata? Kenangan. Iya, kenangan. Rencana-rencana indah itu gugur menjadi kenangan. (Klise banget gue, ya?)

     Sejauh kamu melangkah, sekuat kamu menyangkal, kamu nggak akan bisa melupakan yang namanya kenangan. Kenangan itu abadi. Entah kenangan menyenangkan, ataupun sebaliknya. Kamu bisa saja meninggalkan kota, jauh entah kemana, lalu berkata, "Aku-telah-melupakannya.". Tapi hatimu, enggak. Terima semuanya. Akui segalanya.

     Hatimu nggak bakal lupa, saat kamu mencuri-curi pandang, waktu istirahat sekolah, sekedar untuk melihat senyumannya. Atau saat kamu sengaja berjalan mengitari sekolah, agak jauh, demi melewati depan kelasnya. Atau saat kamu menunggui dia bermain bola hingga sore, rela hujan-hujanan supaya bisa pulang bersama. Atau juga saat kamu berjalan beriringan, melewati gerimis dibawah payung berdua. Relakan. Iya, relakan semua itu. (Siapa yang ngiris bawang disini? Pedih mata, woy!)

     Hatimu juga nggak bakal lupa dengan kesalahan-kesalahannya. Saat dia meninggalkanmu tanpa sebab. Mengabaikan ketika perasaanmu sedang menggebu-gebu. Membiarkanmu menangis sendirian, semalaman. Sampai-sampai kau buta karenanya. Tetap berjuang. Mencintainya. Mengorbankan hatimu untuk seorang yang sia-sia. Hey... itu bukan kesalahanmu. Itu kesalahannya. Maafkan. Maafkan dia beserta kesalahan-kesalahannya. Tuhan itu adil. Akan ada yang lebih pantas menerima semua ketulusanmu.

     Sekarang, simpan semua romansa konyol itu. Tutup rapat. Kubur dalam-dalam. Dan jangan sekali-kali mencoba membongkarnya. Kamu sudah melewatinya. Saatnya naik ke level selanjutnya; Badai-akan-selalu-mengintai-bahteramu-berlayar.

     Kau tahu, secangkir teh itu terasa manis karena gulanya diaduk, kan? Begitu juga manisnya hubungan. Jangan takluk karena konflik. Jangan menunduk karena keadaan. Kuatlah bertahan, dengan nakhodamu sekarang. Yakinlah. Dia-kapten-terbaik-dan-nggak-akan-ada-yang-sebanding-dengannya. Sampai-kapanpun. Dia-adalah-tujuanmu-berproses-selama-ini. (Apalah gue. Sok ngasih nasehat. Ngurus jodoh sendiri aja belum kelar-kelar.)

     Terakhir, terima kasih atas segala hal yang pernah kau sajikan, pernah kau tuangkan, pernah kau curahkan... untukku. Selamat menikah, kamu. Selamat menempuh babak baru. Jauh melintasi waktu, hanya kita yang tahu. (':

(Tim medis, tolong tim medis.)

Tuesday, 8 September 2015

Mengenai Pasangan

     Sebelumnya, sebelum kalian kecewa, gue ingetin dulu kalo gue mau ngoceh. Sesuka hati. Ya kali aja ada yang anti sama curhatan dan belum tau kalo ini blog sampah. Setelah tau malah muntah-muntah, lalu kejang-kejang. Oh, ternyata temen curhat gue penderita Rabies. Oke. Karena gue gak percaya sama mulut orang (baca: gak punya temen curhat), jadi biarlah gue tuangkan keresahan hati di blog sampah ini (nb: gue gak butuh pukk-pukk, kalo belaian, butuh banget).

     Postingan gue kali ini mau ngobrolin tentang pasangan. Ya siapa lagi kalo bukan pasangan guweehhh (Lah, emang punya?). Iya. Gue belum punya. Puas lo? Berhubung gue belum punya pasangan, gue sering mikir, "Kenapa gue gak nyari aja ya? Ngejalin hubungan kayak kebanyakan. Seperti umumnya yang teman-teman lakukan."

     Bagi gue itu terlalu gegabah. Ngejalin hubungan gak se-gegabah itu. Oke, gue kasih contoh. Baru-baru ini, gue ngejalin hubungan sama orang, cewek pastinya, dia idup, tapi you-know-lah endingnya. Sama aja. Sama kayak yang udah-udah. Tak berbeda jauh dengan jawaban pecundang. Entah gue yang butuh diakui atau dianya yang gak bisa mup-on dari mantannya. Kadang nih, bagi gue, musuhan sama mantan itu jauh lebih baik daripada sahabatan. Seenggaknya, diantara keduanya udah gak ada hubungan. Jadi gak ada yang ngerasa masih saling ngasih harapan. Seenggaknya juga gue jadi belajar, kelak, saat gue udah punya pasangan, gue harus mengikhlaskan semua kenangan bareng pasangan-pasangan gue terdahulu.

     Sahabatan? Sama mantan? Gue sering nyoba. Dan gak pernah bisa nganggep dia (baca: mereka) sebagai sahabat. Akan selalu ada rasa yang beda. Biarpun dijalan ketemu, lalu saling ketawa, terus di sosial media ngobrol pake emotikon 'Ha-ha-ha', gue gak akan pernah bisa bersikap biasa karena sebagian hati gue pernah ada padanya. Lah, apalagi jadi sahabat. Lo, gimana?

     Gak bisa bersikap biasa itu bukan berarti masih ngasih harapan. Gak bisa bersikap biasa bukan juga berarti marah, benci, dendam dan hal lain yang semacamnya. Kalian boleh kok sekedar nanya kabar, saling nyapa, tapi tetep, terasa beda, bagi gue, entah kalo bagi kalian. Ah, sial. Kenapa perasaan begitu rumit. Intinya gitu ajalah ya. Pucing pala Optimus.

     Oke. Sekarang tentang cewek yang gue taksir. Belum ada. Sekali lagi, BELUM ADA. Yang dulu pun, ah udah gue kubur idup-idup... perasaannya. Sejujurnya, sekarang gue masih bingung sama hati gue sendiri. Apa yang sebenernya hati gue pengenin. Yang cantik, banyak. Yang baik, berjibun. Ah, seandainya hati gue sesimpel itu.  Jika saja kenyaman bisa diukur dari itu. Pasti gue udah bahagia. Sejak dulu.

     Mungkin, mungkin lho ya, hati gue udah terbiasa sunyi. Gue nyaman 'sendiri'. Nyatanya, gue lebih suka ngelakuin hal yang gue anggep menyenangkan bareng temen-temen daripada ngurusin siapa pasangan gue kelak. ((( Ah, jika saja 'kalian-kalian' mengerti, gak sedikitpun gue punya maksud php. Gue cuma gak mau 'kalian' terluka karena gue. Karena hati gue. ))) Guys, percaya atau enggak, sunyi dan sendiri itu bikin kecanduan.

     Sebenernya ada sih satu hal yang bikin gue ngerasa-gimana-gitu sama cewek. Bukan karena lobang. Bukan juga karena tampang. Tapi pola pikir. Gue bisa aja bilang dia cantik, dia menarik, dia antik (lo kira barang). Tapi ya cuma sebatas itu aja. Gue mikir, oke dia cantik, tapi belum tentu orangnya baik. Oke dia manis, tapi belum tentu kan bisa saling memahami. Oke dia cantik dan manis, tapi belum tentu juga dia mau nerima gue sebagai pasangannya.

     Iya. Belum-tentu-dia-mau-nerima-gue-sebagai-pasangannya. Emang sih ya, yang bukan siapa-siapa, mana bisa mendapatkan apa-apa. Itu kata bang Dika. Artinya kalo mau dapetin 'apa', lo harus jadi 'siapa' terlebih dahulu. Gue sadar, sesadar-sadarnya, gue masih nganggur. Gue ngerasa belum jadi 'siapa'. Belum siap juga untuk mendapatkan 'apa'. Dan lo tau sendiri lah ya kesimpulannya.

     Gue percaya setiap hal gak ada yang abadi. Semua selalu punya daya. Saat dayanya abis, itulah masa pergantian. Begitu juga sedih-bahagia, susah-senang. Mungkin hari ini lo sedih, ditinggal pasangan atau apalah gitu. Tapi percayalah besok lo bakal bahagia, bakal berterima kasih sama kesedihan lo. Bisa jadi sekarang lo susah, nganggur, duit masih minta ortu. Tapi kelak lo bakal seneng karena lo pernah susah. Nikmatin aja, Tuhan gak sekejam itu ngasih peran yang selalu nelangsa ke tokoh dan pemeran drama-Nya.

     Oke. Sebelum ocehan gue berakhir, gue mau nulis pesan buat kamu entah siapa yang masih khayalan, tapi yang pasti perempuan; Jika kamu tak mau kesusahan, tak mengapa, biar aku telan semua ini sendirian, lalu setelah semua berlalu tunggulah aku menjemputmu. Atau... Jika boleh aku meminta, bantu aku melewati semua, dekap aku lekat-lekat saat semesta berteriak mencela, setelah semua mereda kan ku bisikkan, "Terima kasih cinta, tanpa kau aku takkan pernah menjadi siapa-siapa."

     Itu aja yang pengen gue ocehin. Lain waktu, bakal gue posting lagi ocehan-ocehan sampah gue yang lain. Bye!

Friday, 14 August 2015

Happy birthday... to me (II)

Happy birthday to me (again)
Happy birthday to me (again)
Happy birthday, happy birthday
Happy birthday to me (again)...

     Kayaknya udah lama banget gue nggak bikin postingan. Baru belajar jadi orang sibuk. Ngerjain proyek nulis cerita "kecil-kecilan" yang entah kapan selesainya (halah, alesan). Soalnya plot ceritanya mau gue bikin berbelit. Doain aja cepet kelar terus gue kirim ke penerbit terus diasese sama editornya terus dicetak terus disebarin ke toko-toko buku terus kalian beli terus buku gue jadi top 10. Harapan pertama dihari ulang tahun. LOL!

     Well, ada yang kangen sama tulisan sekaligus curhatan sekaligus sesampahan gue? Kalo ada ya syukur. Kalo enggak sih, ya nggak apa-apa tapi kok buka blog gue ya? LOL!

     Ini namanya blog. Tempat curhat gue. Perlu diketahui ya, curhat dan ngeluh itu beda. Curhat itu bercerita. Ngeluh itu nggak terima. Karena blog sifatnya pribadi, jadi terserah empunya mau ngoceh apapun hal, ngeluarin idealisme, khayalan, atau fantasinya. Orang lain tetep boleh ikutan nimbrung kok... asal jangan ngrecokin. LOL!

     Postingan gue yang satu ini sengaja nggak gue share di media sosial. Alasannya masih sama kayak postingan ulang tahun gue yang kemarin; memanjakan para stalker. Hai, stalker. *sambil dadah-dadah didepan monitor* LOL!

     Oke. Hari ini gue ulang tahun yang ke... dua puluh satu (21). Wohoo, you rock, brader! Kepala dua buntut satu! Besok-besok kalo tiap lebaran, terus ngumpul bareng keluarga besar, pasti bakalan dicerca pertanyaan"Kapan-nikah?". LOL! Jangankan mikir kapan nikah, mikir mau nikah sama siapa aja masih gelap. LOL! LOL! LOL!

     Semoga gue yang pertama udah gue ketik diatas; Bikin novel. Semoga novel pertama gue terbit. Pait-paitnya ditolak, berarti gue mesti melakukan lebih banyak riset lagi dan memperbanyak jam terbang di blog. LOL!

     Semoga gue yang kedua; Tentang keluarga. Semoga Mamay dan Papay selalu sehat dan selalu dalam lindungan-Nya. Kalo boleh jujur, gue sebenarnya takut. Gue takut jikalau waktu mengambil mereka lebih cepat. Yang gue amatin, saat ini, nggak cuma satu-dua temen yang Ayah atau Ibunya terambil oleh waktu. Banyak, teramat. Gue belum siap "timpang". Gue masih pengen liat Ayah yang menanti anak dan cucu-cucunya berkunjung setiap akhir pekan. Atau Ibu yang membuatkan sup bakso, bubur kacang hijau, atau beberapa kudapan kesukaan anaknya. I just wanna say, terima kasih Tuhan hingga hari ini aku masih mendengar marah mereka, masih merasakan kasih sayang secara komplit, dan masih bisa memeluk senyum hangat mereka dengan utuh.

     Semoga gue yang ketiga; Soal pertemanan. Semoga gue makin banyak temen, makin banyak relasi, makin banyak tali-tali silaturahmi yang terikat. Oke. Nggak bisa dipungkiri kalo datang dan pergi itu berpasangan. Tiap ada yang datang, bakalan ada yang pergi. Tiap ada yang lahir, akan ada yang mati. Begitu juga hubungan. Mungkin hari ini sahabat, besoknya saling babat. Sekarang sayang-sayangan, besoknya anjiang-anjiangan. Skenario alam selalu rumit. Tingkatan tertinggi dalam sebuah "drama". Satu-satunya jalan supaya skenario alam seperti yang diharapkan adalah merayu Sang Maha Pembuat Skenario. Well, semoga, 'semoga-gue-yang-ketiga' dikabulin. Aamiin.

     Semoga gue yang keempat; Oke. Mantan (ya mantan pacar, ya mantan gebetan, ya mantan apapun). Semoga kalian pada bisa move on dari gue ya. (Ini refleksi apa gimana sih?) Maap kalo di media sosial kalian sering gue bawa-bawa. Buat ketawa-ketawaan aja sebenernya. Seriusan, deh.
'Semoga' yang ini emang sengaja gue khususkan buat barisan para mantan. Entah ya, bagi gue asik aja gitu kalo lagi ngobrolin mantan. Tapi bukan berarti gue masih sayang, lho ya. Ntar pada baper, lagi. LOL! LOL! LOL! LOL! LOL! LOL! LOL! LOL! LOL! *digetok kepalanya*

     Mantan kalian yang anti-mainstrim kan lagi ulang tahun, bolehlah ya kalo minta sesuatu sama kalian? Nggak susah-susah kok. Cuman; (1) Minta kalian maapin gue. Mungkin selama kita saling berusaha membahagiakan dulu, ada tutur kata, sikap, dan perilaku gue yang menyakiti kalian. (2) Minta doanya biar proyek nulis cerita gue sukses. Kalo kalian tau, kalianlah yang jadi inspirasi nulis cerita tiap malem. See? Betapa berharganya kalian buat gue? LOL! (3) Agak berlebihan sih. Tapi bolehkan gue dapet ucapan "Selamat-ulang-tahun"? Nggak harus SMS atau nulis di sosial media kok. Cukup dari dalam hati kalian aja. Itupun kalo ikhlas. Kalo nggak ikhlas mendingan nggak usah ajalah. LOL!

     Semoga yang terakhir; Buat diri gue sendiri. Semoga jadi pribadi yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Jadilah orang yang bukan cuma ngejar dunia tapi kejar akhiratnya juga. Terus, banyak-banyakin berterima kasih. Berterima kasih kepada Sang Maha Pemberi segalanya, kepada orangtua, sahabat, dan juga haters. Jangan takut sama harapan dan 'semoga' yang belum tercapai. Takutlah sama harapan dan 'semoga' yang udah tercapai... tapi lupa buat disyukuri. Gimme, nah!

     Itu aja yang pengen gue curhatin ke blog. Kapan-kapan kalo ada sesuatu yang pengen gue ceritain, bakal gue ketik di blog. Bye!

Happy birthday to me (:

Monday, 11 May 2015

Takut

     Jam menunjuk pukul 23:00 WIB. Sudah hampir setengah jam lembar kerja Microsoft Word belum ternoda. Masih berupa hamparan putih dengan kursor yang berkedip teratur di pojok kiri atas layar. Bersih. Kosong. Entah apa yang sedang dipikirkan bocah laki-laki itu. Hanya menatap datar lembar kerjanya tanpa melakukan apa-apa. Sepuluh menit berlalu, dua puluh, tiga puluh. Tentu dia punya banyak waktu untuk dibuang-buang. Untuk tak melakukan apa-apa. Malam adalah dunianya. Kesunyian adalah teman terbaiknya. Menghabiskan waktu dimalam hari berteman kesunyian membuat dunianya ramai. Ramai menurut dia.

     Malam semakin malam, semakin larut didalam kegelapan. Bocah laki-laki itu masih diam, tetap bungkam. Nafasnya terhela. Akhirnya, jari-jemari tangannya mulai mengetikkan kata pertamanya... "Takut".

     Sesaat kemudian dia melanjutkan.
     "Aku takut pada diriku sendiri. Yang orang lain katakan selalu menyenangkan, selalu membahagiakan, selalu tanpa beban.Yang kebanyakan orang kira selalu tangguh, selalu bisa memecahkan persoalan, selalu, selalu, dan selalu. Iya, selalu. Selalu adalah kata yang menakutkan. Mengerikan. Membuatku gemetar.
     Aku takut pada diriku sendiri. Yang orang lain anggap sebagai panutan. Sebagai teladan. Sebagai contoh. Aku tak seterang itu. Aku tak lebih bersinar dari kalian. Tak lebih baik juga dari tulisan-tulisanku.
     Aku takut pada diriku sendiri. Pada tanggung jawab yang ada dikedua pundakku. Tanggung jawab sebagai anak pertama. Tanggung jawab untuk membantu orang tua, untuk menjadi tulang punggung keluarga, membantu pendidikan kedua saudara, terlebih untuk diriku sendiri. Bagaimana-jika-seandainya-aku-gagal? Pertanyaan itu jauh lebih menyeramkan dibanding hantu atau makhluk buas manapun. Aku-ketakutan."

     "Beep.... Beepp.. Beeeeppp..." Tangannya berhenti mengetik. Pandangannya teralih ke sudut meja. Satu (lagi) pesan masuk dari aplikasi WhatsApp. Beberapa pesan menumpuk diponsel pintarnya. Tidak. Dia bukan tidak sadar. Memang sengaja. Sengaja untuk tidak membuka pesan masuknya. Ada hening yang cukup lama. Jeda diantara tulisan. Lalu, dia kembali melanjutkan.
     "Aku dihantui ketakutan... sampai akhirnya kamu datang. Hingga kamu memberiku pelukan, untuk tetap kuat bertahan. Untuk melawan ketakutan.
     Kini aku merasa berani. Aku merasa tak perlu lagi ada hal yang harus aku takuti. Berada didekatmu, aku tidak menjadi 'aku'. Aku menjadi 'kita'. Tentu, kita adalah aku dan kamu. Aku seperti seorang pemberani. Iya, seperti."

     Kedua bibirnya terangkat. Tersenyum kecil.
     "Tetapi aku salah. Aku semakin ketakutan. Kau membuatku ketakutan. Sejatinya aku bukan seorang pemberani. Aku adalah si penakut. Aku takut melukaimu. Melukai perasaanmu, melukai hatimu. Tidak selamanya aku menjadi mata air bahagia yang mengalirkan senyum dan tawa. Akan ada waktunya aku akan menumpahkan genangan air dikedua matamu. Pasti ada masanya sikapku, ucapanku, dan entah apapun itu akan membuat anak sungai membelah pipimu.
     Aku takut mengecewakanmu. Takut jika bukan seperti yang kamu harapkan. Aku bukan apa-apa. Juga bukan siapa-siapa. Aku hanya seorang yang merasa beruntung bisa memelukmu. Mendekapmu selekat ini. Kamu... Tak cukup semalam aku mendefinisikan kata 'kamu'. Hanya saja, aku takut tak mampu mengimbangimu.
     Aku takut kehilanganmu. Kehilangan candamu, tawamu, marahmu, atau uring-uringanmu disetiap pagi. Aku takut semua itu hilang. Takut jika tak kutemukan lagi semua kebahagian itu diesok hari. Tak kurasakan lagi hal yang sama dikemudian hari."

     "Krek.. Krekk... Sssstt, Fiuhh." Gas karbondioksida terhembus. Kepulan uap hasil pembakaran membumbung ke langit-langit kamar. Ruangan yang tak terlalu besar mulai dipenuhi asap putih. Bocah laki-laki itu tersenyum. Senyumnya lebar. Memandangi ponsel pintarnya. Membaca pesan yang dikirim oleh seseorang.
     'Udah tidur ya?'
     'Aku ditinggal lagi :('
     'Nyebelin, ah'
     'Uuu, nyebelin'

     Tangannya mulai sibuk membalas pesan yang sudah sejak sejam lalu masuk keponselnya.
     'Eh, maaf. Aku ketiduran lagi. Hehehe'
     'Selamat malam ya? Mimpi indah'

     "Tidur nyenyaklah. Bola sinar raksasa siap menunggumu dipagi hari. Begitupun... aku. Iya, aku."

Sunday, 15 March 2015

Sinonim Ungkapan Cinta

     Sulastri turun dari motor tua, Honda Pitung milik Joko dengan perlahan. Sebelumnya, memang, hujan jatuh bertebaran dari langit cukup deras. Cukup untuk mengguyur mereka dalam perjalanan pulang dari sekolah. Mengguyur kebisuan malu diantara mereka.
"Jok, gue turun sini aja. Nggak usah nyampe rumah. Lo langsung pulang. Bersihin badan lo tuh yang basah kuyub. Gue nggak apa-apa kok."
"Nanggung, Las. Maju dikit kan nyampe rumah lo. Lagian entar kalo lo kenapa-kenapa gimana? Diculik sama pasukan Vudo, misalnya."
*kemudian Sulastri berubah menjadi Bima Satria Garuda*

     Siapa bilang ungkapan cinta cuma sebatas, "Aku-cinta-kamu"? Ungkapan cinta itu berkarakter. Dan karakternya ada banyak. Ada yang keliatan, ada juga yang enggak. Kalo buat tipe orang yang bisa dengan gampang ungkapin cinta mah, nggak masalah. Lah, buat yang sebaliknya, kan nggak mudah. Harus jungkir balik nyari ide buat modusin doi secara sembunyi-sembunyi, bikin kode absrut yang rapi buat nunjukkin kalo emang bener-bener punya rasa sama doi, nunjukin isyarat-isyarat bodoh kayak alien lagi ngobrol. Ujung-ujungnya, ya gitulah. Yang ditaksir jalan sama si pedal traktor. Tahik, kan ya? Tombak aja dada abang dek, tombak. Oke, tapi gue salut sama pejuang cinta yang kayak gini. Unik soalnya, kreatif, dan nggak gampang putus asa. Lo?

     Orang yang baru jatuh cinta biasanya 'nggak bisa' mikir. Tapi entah kenapa ya, kalo urusan 'gimana-caranya-deketin-doi', pasti selalu punya ide. Gini contohnya :

     Siang itu Joko sedang asyik di serambi masjid sekolah. Seperti yang biasa dia lakukan. Mengusap-usap Apple Watch-nya sambil tiduran. Istilahnya, ngadem. Cuaca hari itu memang terasa sangat terik. Menyengat sampai ke lapisan terbawah kulit. Membakar pigmen. Dari balik bangunan sebelah masjid, Sulastri membawa sebekal makanan. Dia terlihat malu-malu berjalan mendekati Joko.
"Sendirian aja lo disini. Nih, gue bawain air mineral sama beberapa kudapan. Ada klepon, onde-onde, sama nogosari. Kan nggak lucu ntar kalo tiba-tiba lo ngebangke di masjid gara-gara cuaca."
Dengan wajah kebingungan, Joko menerima bungkusan itu. "Maksudnya apa ini, Las..."
Belum selesai Joko bicara, Sulastri sudah mengepakkan selendangnya untuk kembali ke khayangan.

     Orang yang baru teler asmara mah kelakuannya banyak yang aneh-aneh. Malahan ada yang diluar nalar. Emang, hormon dopamin, serotonin, dan oksitosin kalo dijadiin satu efeknya luar biasa. Makanya bagi yang belum cukup umur, lebih baik jangan 'jatuh' terlalu dalam. Takutnya ntar susah sembuh. Nggak pindah-pindah. Sekali lagi, NGGAK PINDAH-PINDAH.

     Cinta. Biasanya cinta itu erat hubungannya sama perhatian. Perhatian itu lucu. Bentuknya ada 2; (1) Nggak penting-penting amat. (2) Ya-cukup-penting-lah. Kebanyakan sih, pada ngasih perhatian yang nggak penting-penting amat, kayak :

     Jam dinding digital kamar Joko menunjukkan pukul 9:31 PM. Malam itu, Joko terlihat sibuk dengan iphone6 yang dia beli dari hasil usaha tempel teh celup. Dia masih asyik chating dengan, siapa lagi kalo bukan Sulastri. Cewek idamannya sejak masih duduk dibangku Taman Kanak-Kanak. Tapi entah, sampai Joko kuliah, dia tak berani untuk mengatakan apa yang dirasa sejak jaman ingusan.
"Las, udah malem. Kok lo belom tidur?"
"Iya nih. Masih ngerjain tugas, kak?"
"Eh, jangan manggil kakak dong. Kan kita udah kenal lama, masa masih manggil kakak?"
"Yaudah, deh. Ini masih ngerjain tugas, Jok. Main sini ke rumah Lastri. Bantuin ngerjain tugas kek. Rumah Lastri sepi kok. Papa sama Mama baru keluar."
Joko kemudin sangek sendiri. *buru-buru tacep gas*

     Tapi ada juga yang ngasih perhatian yang bisa dibilang, ya-cukup-penting-lah. Seperti ini :

     Kuliah berakhir. Joko terlihat loyo berjalan keluar ruangan kelas. Kepalanya tertunduk. Dari arah berlawanan, Sulastri berlarian kecil menghampiri Joko. Namun Joko tidak menyadari kedatangan Sulastri.
"Dorr!!! Lemes amat jalan lo. Kenapa emangnya, Jok? Cerita gih."
"Alah, lo lagi, lo lagi. Gue dapet tugas khusus bikin makalah nih gara-gara ketauan nyimeng di kamar mandi kampus kemaren."
"Aaa, itu mah gampang. Tenang aja. Ntar sore gue bantuin ngerjain deh. Gimana?"
"Oke, Las. Makasih ya?"
*sore harinya*
Kemudian Joko dan Sulastri nyimeng bareng sambil ngerjain tugas bikin makalah.

     Nunjukin perhatian ke orang yang kita sukai itu perlu. Tapi ya jangan sampai orang yang pengen kita perhaiin itu ngerasa keganggu, kerepotan, atau malah kerecokan. Istilah gue bilang, "Ojo ndais tur ngganyik". Sekarang kan banyak tuh, pejuang-pejuang cinta yang gugur di medan asmara karena salah strategi. Niatnya sih mau perhatian, tapi gagal gara-gara si doi ngerasa keganggu. Ya kadang, lucu aja gitu ngeliatin orang-orang yang baru 'usaha' tapi usaha ngarepnya keliatan banget. Hey c'mon guys, apa kalian nggak tau tentang manusia? Gue kasih tau ya, manusia itu berkarakter. Mereka beda sama makhluk lain. Terus, gampang penasaran sama hal-hal yang nggak sepenuhnya tersingkap. Lo nggak perlu terang-terangan ngasih perhatian. Tunjukin dikit aja. Biar doi yang mencernanya, bukannya lo yang jatuh-bangunin harga diri lo. Nah, kalo tertarik, doi bakal mendekat buat menyingkap perhatian samar lo. Kalo enggak, ya itu resiko. Berarti doi nggak tertarik sama lo. Emang sih, kalo orang udah nggak tertarik, kesannya emang nggak peka. Jadi berhentilah ngasih label nggak peka kalo dari si doi aja nggak ngasih reaksi timbal-balik. Sah?

     Cinta itu perbuatan bukan sekedar tulisan... bagi sebagian orang. Sebagian lainnya, mereka mencintai melalui bentuk tulisan. Kebanyakan orang salah ngartiin kata 'perbuatan'. Padahal, perbuatan itu bukan cuma dalam bentuk "Selamat malam, bep. Udah makan belum. Jangan lupa makan, ya?". Abang nasgor yang muterin kosan sampe 7x nyari pelanggan, itu juga bentuk perbuatan kalo dia mencintai istrinya, keluarganya. Atau mungkin seorang musisi yang nyusun lirik lagu untuk seorang yang dicintainya. Atau seorang penulis, mungkin. Jadi berhentilah berpikir kalo perbuatan itu hanya sekedar mengingatkan "Udah makan, belom?" atau mengucapkan "Met bobok, mimpi indah." setiap waktu, setiap saat. Hubungan terlalu menjenuhkan kalo cuma itu-itu aja. Dunia terlalu sempit untuk hal itu.

     Oke. Bentuk lain dari ungkapan cinta nggak cuma yang udah gue sebutin. Masih ada banyak. Lagian nggak mungkin juga dong gue tulisin satu-satu, kayak misalnya;
"Kalo perlu apa-apa bilang aja ke gue. Nggak usah sungkan." atau
"Kalo lo nggak ngerti, nggak apa-apa. Gue aja yang kerjain punya lo." atau
"Nggak usah dipikirin soal ganti, pake aja dulu." atau
"Berangkat kuliahnya bareng, ya. Gue jemput." atau
"Yaelah, lanjut tugasnya besok pagi aja. Tidur dulu mendingan, nanti sakit lo." atau
"Tenang aja, gue udah hapal kok kebiasaan lo." atau
"Sakit, lo? Yaudah nggak usah ngampus dulu, gue TA-in aja." atau
"Nggak usah mikirin gue. Pikirin kesehatan lo dulu aja." atau
"Bakso lo udah gue pesenin. Kayak biasa kan? Nggak pake seledri, nggak pake bawang goreng, sambelnya satu sendok aja." atau
"Belajar nyisir berapa taun sih? Sini rapiin.", dan masih banyak lagi bentuk lain dari ungkapan cinta yang nggak semua orang sadar sama hal itu. Bagi gue nih, seni dari orang yang 'susah ngomong cinta', letaknya disitu. Hatinya nggak bisa ngelak kalo punya rasa, otaknya tau dia nggak berani untuk mengungkapkan, tapi tetep, ide selalu ngalir 'gue-mau-nunjukkin-apalagi-ya-ke-dia'. Ada nggak temen lo yang kayak gitu? Cek gih.

     Paragraf terakhir. Gue sependapat cinta itu murni. Hakikatnya menjaga dan memelihara, bukan mengambil, merenggut, ataupun merusak. Jadi selain itu, cuma nafsu. Dan kalo masih ada orang yang berpikir bahwa 'menyerahkan' berarti mencintai, demi seluruh semesta beserta isi-isinya, dia baru tersesat. Sesesat-sesatnya. Sampe sini dulu postingan gue kali ini. Yang mau berbagi pengalaman bisa menodai kotak komentar di bawah. Bye! (:

Sunday, 22 February 2015

Gagal Berpindah

     Selamat malam, para penikmat sampah. Pernah denger kisah orang yang sebenernya punya kesempatan berpindah tapi doi selalu gagal, belom? Kali ini gue mau ngobrolin beginian. Aim sori, kalo 'si orangnya' baca. Nggak punya maksud, tapi emang niat. *ketawa abujahal*

     Pernah nggak lo naksir sama suatu barang semacam kemeja, atau motor, atau hengpon, atau apalah itu yang bikin boker lo nggak nikmat kalo si barang belum nyampe ditangan? Kalo lo pernah ngerasain situasi kayak gitu, berarti idup lo hedonis. Iya, hedonis.

     Nah, kalo semisal pertanyaannya gue ganti jadi gini, "Pernah nggak lo sayang sama seseorang yang walaupun bisa digantikan oleh orang yang lain tapi perasaan lo nggak bakalan bisa sama, kayak sewaktu sama dia?". Terus kalo yang ini namanya apa?

     Ada beberapa hal yang emang udah kita lewatkan, tapi entah kenapa rasanya semacam susah buat ditinggalkan. Kayak bus Jogja-Magelang yang kelewatan mau ngangkut penumpang. Pasti si sopir bakal mundurin bus-nya. Emang tuh, bus gagal mufon. Yang udah kelewatan aja masih ditungguin, pake mundur segala lagi. Kayak nggak ada penumpang lain aja. Contoh tuh, bus tranjokja. Maju terus, ngeliat kedepan, visioner, kondisioner (halah). Eh, ini kenapa gue jadi ngomongin bus sih? Baiklah, kembali ke jalur lagi.

     Bdw, disini siapa hayo yang belom mampu berpindah? Nggak usah malu, sini ceritain ke Om apa persoalan kamu? *elus kepalanya*

     Gagal berpindah nggak selalu identik sama gagal ngelupain mantan, yang makin hari makin menawan. Atau ngelupain gebetan yang malah asik sendiri sama urusannya (Kamu kalo sibuk mulu, ke laut aja sono biar dimakan ubur-ubur.), tapi anehnya tetep kita cinta. Atau juga ngelupain cewek yang lo suka. Yang udah punya pacar. YANG PACARNYA KAYAK KADAL MESIR. *sorry-sorry, keyboard gue emang suka error gini*. Nah, gagal berpindah itu bisa jadi  karena lo udah ngerasa nyaman sama suatu hal (bisa tempat, bisa sifat, bisa barang, atau bisa juga status), yang ujung-ujungnya lo enggan buat beradaptasi dengan hal baru, memulai dari awal lagi, atau nyusun dari tingkat pertama.

     Nggak masalah semisal lo belum mampu berpindah atau masih suka nginget yang udah 'basi'. Lo setingkat lebih elegan kok, karena berani ngaku dibanding mereka yang cuma ngaku-ngaku. Perlu diketahui ya, nginget-inget 'barang basi' itu nggak apa-apa, selama menggunakan cara yang sehat. Bener kan?

     Sekali-kali jadi Pak Mariyo Thengkleng, ah. Oke! Karena kebanyakan orang nganggep 'gagal berpindah' itu identik dengan sulit ngelupain mantan, gebetan, dan apalah itu yang sejenisnya, gue bakal nurutin pemahaman kalian. Disini gue mau ngasih pencerahan buat orang-orang yang susah dan cenderung gagal berpindah. Yang cuman disitu-situ mulu, nggak ada tanda-tanda kemajuan. Kayaknya masa depan lo mulai nggak asik tuh. Buruan gih, dibenerin. (Sok-sokan ngasih pencerahan. Emang proses berpindah lo sukses, bal? | Ngg... )

     Oke, sahabat super rahimakumullah. Apa gerangan yang membuat engkau bersedih hati? Tiap penyakit itu ada penawarnya, tiap masalah ada jalan keluarnya, dan tiap jomblo sudah tentu ada pasangannya (walau entah dimana). Sekali-duakali bolehlah kayak supir bus Jogja-Magelang. Nengok belakang bentar. Tapi ya jangan keterusan. Mungkin masa lalu lo, mantan-mantan lo, udah pada punya pasangan. Udah pada bahagia. Mungkin juga udah ada yang jadi manten, udah ngerasain malam pertama (baca: Ngitung uang sumbangan kondangan dari orang-orang.), atau malahan udah punya momongan. Kalo lo asik nengok ke kebelakang, kapan mau majunya? Pindah woy, pindah. Udah penuh. Udah penuh kenangan. Lo butuh masa depan. Paham?

     Oke, gebetan (baca: Orang yang baik sama lo, peduli, dan selalu sukses bikin lo GR, padahal dia ngelakuin itu sama semua orang. Kan, kamfret.). Nggak ada yang lebih buang-buang waktu selain nungguin orang mancing dan ngarepin gebetan (entah apa hubungannya orang mancing sama gebetan, mungkin cowok barunya gebetan ini hobi mancing yang bauk keteknya kayak pelet ikan, atau apalah gue juga kurang paham). Boleh jadi lo suka sama si dia, tapi dari dianya suka nggak sama lo? Kalo cuma lo sendiri aja yang suka, yang cinta, yang sayang, buat apa diperjuangin? Buat apa ditungguin? Mending nungguin ayam bertelor. Hasilnya keliatan, telor ayamnya ada. Lah, lo nungguin orang yang sama sekali nggak sayang, sampe si ayam naik haji 3x pun, lo ngelakuin hal yang sia-sia. Pindah, woy. Pindah. Mungkin aja lo ngerasa nyaman karena udah terbiasa. Iya, terbiasa dibodohi sama pesona gebeten antah-berantah lo itu misalnya. Tapi percayalah, nggak ada suatu hal yang lebih nyaman selain ngeliat jauh kedepan. Tinggalin orang yang bikin lo berjuang sendirian. Jauh disebrang sana gue yakin, pasti ada orang yang nungguin lo buat berjuang sama-sama. Iya, gue yakin.

     Oke, orang yang ((( pernah ))) sayang sama lo, tapi lo abaikan. Sebelumnya, lebih milih mana; "men-cinta" atau "di-cinta"? Kebanyakan orang akan lebih memilih di-cintai, karena itu lebih mudah dibanding men-cintai. Dan nggak pernah ada yang bilang, diabaikan itu menyenangkan, apalagi "di-abaikan dalam men-cintai". Satu hal yang menjadi pasti; Mungkin dia udah bahagia sama orang 'mencintainya'. Buat lo, nggak ada lagi kesempatan buat mencintai orang yang (pernah) mencintai lo, yang waktu itu lo abaikan. Kenapa? Karena kesempatan itu memiliki nyawa. Terlambat sebentar saja, dia bisa mati, atau... diambil orang lain. Pindah, woy. Pindah. Kalo cuma menyesali kesalahan, ujung-ujungnya lo cuma bakal balik lagi ke awal; ada orang yang cinta sama lo - lo abaikan - lo lebih milih orang yang terlanjur kecewa sama lo - lo nyesel sama yang sebelumnya - ada yang cinta sama lo lagi - lo abaikan lagi -... *begitu seterusnya sampe setan capek bikin lingkaran*. Hati itu seperti gelas kaca. Kalo terjatuh dan pecah, ya dibuang. Ganti yang baru lagi. Bukannya malah diperbaiki. Emang ada tukang reparasi gelas pecah? Kayaknya enggak deh.

     Kemarin, hari ini, dan esok, nggak akan pernah sama. Mantan-mantan lo, gebetan-gebetan lo, orang yang (pernah) sayang sama lo, juga nggak ada yang 'tetap-sama', seperti saat pertama kali ketemu. Mereka berubah. Mereka berpindah. Mungkin yang dulu saling "Malem, bep. Nice dream."-an, jadi "Babi, mati aja lo!"-an. Yang dulu pernah "Sayaaaanngg deh sama kamu."-an, jadi "Kamu tuh nggak pernah bisa ngertiin aku ya!"-an. Terus yang biasanya dipercakapan sosial media saling "Ehm!; Uhukk!; Woy!"-an, jadi cuman dibaca aja, dibalesnya enggak. Parah kan?

     Paragraf terakhir. Hidup itu emang terus berpindah. Nggak bisa dipungkiri. Dan perpindahan erat kaitannya sama perubahan. Kalo nggak percaya, tunggu aja masanya. Orang yang lo sayang sekarang, bisa aja adalah orang yang lo benci kelak. Yang deket sama lo sekarang, mungkin yang mulai menjauh dari lo pada waktunya. Pun sebaliknya. Kalo dari gue sendiri, gue lebih milih puas-puasin secara bijak momen bersama orang-orang terdekat. Yang gue sayang. Yang gue cintai. Entah besok atau lusa bakal ada banjir air mata, luka, pilu, atau gagal berpindah sekalipun, P.E.R.S.E.T.A.N. Yang penting gue udah (pernah) bahagia... bareng dia.

Oke, sampe sini dulu postingan gue. Yok, bagiin ke kita pengalaman gagal berpindah lo atau apapun di kolom komentar. Gas! (:

Wednesday, 28 January 2015

Persoalan Cinta

     Persoalan cinta nggak bakal selesai hanya dengan satu atau dua postingan. Ini yang gue suka. Gue jadi ada bahan dan nggak kehabisan topik buat diobrolin di blog.

     Kali ini gue mau ngobrolin tentang seseorang yang pernah hidup bukan sebagai dirinya sendiri sewaktu masih pacaran, melainkan jadi orang lain. Gue percaya diantara kalian pasti pernah jadi makhluk lain semasa pacaran. Entah sekarang, entah dulu (hayo, ngaku lo). Gue nggak bermaksud ganggu ketentraman hubungan perpacaran kalian. Juga nggak ada niatan buat ngusik hidup kalian. Gue cuma mau nanya satu hal, pernah kepikir nggak mau sampai kapan kalian jadi orang asing? Yang bukan sejatinya kalian?

     Gue punya beberapa sampel;
     Yang pertama. Indikasi lo berubah jadi orang lain adalah, panggilan-panggilan aneh sebelum waktunya (Papa-Mama / Pipi-Mimi / Ayah-Bunda / dan yang serumpun). Contoh;
"Ma, udah makan belom nih? Jangan telat-telat makan. Entar Mama sakit. | Makaciiihh. Papa perhatian banget. Makin sayang deh."
Ini biasanya yang make anak-anak labil. SMP-SMA (tapi nggak menutup kemungkinan anak kuliahan juga). Katanya, pake sebutan Papa-Mama biar keliatan keren ato apalah gue juga nggak ngerti. Oke, itu hak lo mau manggil pacar lo dengan sebutan apa. Tapi ngerasa aneh nggak sih? Masih pada bocah, manggilnya Papa-Mama. Lagian entar kalo doi laper, pasti makan juga kan? Babe gue yang cinta maksimal sama Emak gue nggak gitu-gitu amat. Nah, kalo dari awal, dari manggil pacar lo aja udah aneh, gimana lo jalanin kedepannya? Kata kebanyakan orang, biar lucu. Lucu darimananya? Iya, lucu kalo menurut salah satu pihak, entah menurut pihak satunya. Kepaksa mungkin. Coba cek gih, tanyain ke pacar lo.

     Kedua. Kekuatan cinta emang luar biasa. Bisa ngubah yang tadinya lo makhluk sehat, mendadak perlu rehat;
"Aku bobok duluan ya? Udah ngantuk nih. | Iya, bep. Met bobok, mimpi indah. Mimpiin aku ya? | Iya, yaudah kamu yang nutup telponnya dong. | Nggak mau, kamu aja. | Kamu.. | Kamu.. | Kamu... | Kamu.. | *begitupun seterusnya sampe fajar menjelang*
Gue yakin lo pernah ngelakuin percakapan beginian ditelpon sewaktu pamit mau tidur sama pacar lo. Ini gue anggap aneh. Kenapa? Karena saat lo nelpon, mungkin mata lo itu udah ngantuk level KPK vs Polri part III, tapi tetep aja lo paksain buat bales "kamu-kamu-kamu-kamu" yang entah sampai kapan selesainya, demi cinta. Sob, jangan cuma doi aja yang lo pikirin, tubuh lo juga butuh cinta. Kalo doi bilang, "Kamu-yang-nutup-telponnya.", ya tutup aja. Nggak usah sok. Biar dikira romantis, gitu? Alah, palingan juga cuman bertahan beberapa hari. Dari percakapan telpon aja udah keliatan dipaksakan, gimana lo ngejalanin hubungan?

     Selanjutnya. Cinta juga mendadak bikin lo jadi seorang yang rela untuk berkorban. Iya, berkorban buat disalah-salahin;
"Kamu seharian ini kemana aja nggak ngabarin?! | Aku ngerjain tugas, bep. Di kampus. | Nggak bisa ya bentar aja ngasih kabar ke aku?! | Ya, tad, tadi aku... | Alah alesan! | Iya deh maaf. Aku yang salah. | Bodo! Kamu tuh nggak peka ya?! | ... "
Kalo ini kembali ke UU tentang perempuan, pasal 1; Cewek selalu benar. Atau bisa juga pasal 2; Kalo semisal cewek yang salah, kembali ke pasal 1. Solusi; cium saat dia baru ngomel-ngomel (dan jangan bilang kalo ini saran dari gue).

     Banyak hal dalam suatu hubungan yang nggak kita sadari malah mengubah siapa sebenarnya kita. Kadang, sesuatu yang 'kita-anggap' romantis pun, nggak selamanya terasa manis. Terasa aneh, iya. Contohnya kayak panggilan Papa-Mama ato semacamnya, jaket ato t-shirt yang warna, motif, dan modelnya sama (kayak orang abis kampanye aja), atau bisa juga nama pacar yang lo ukir ditangan pake silet. Bukan lagi keliatan "Cinta-itu-indah", tapi kesannya malah "Cinta-itu-rumit". Emang selayaknya, biar cinta itu sebagai dirinya sendiri. Nggak usah dikasih variasi-variasi ato dimodifikasi kayak motor lo yang gondhes itu. Walaupun sebenernya niat lo bagus, tapi apa yang bisa ngalahin dari sebuah originality? Nggak ada kan? Begitupun cinta.

     Sering suatu hubungan berakhir karena kekecewaan. Kebanyakan orang bilang, "Dia-nggak-kayak-dulu-ya?", "Kok-sifatnya-berubah-sih?", "Aku-kangen-dia-yang-dulu.". Karena apa? Karena lo pas pertama kali kenal sama dia, bukan sebagai diri lo sendiri. Kalo sejak awal lo adalah alien, lo bakal berakhir sebagai alien. Kalo lo ngawalin hubungan sebagai orang lain, lo bakal berakhir juga sebagai orang lain. Jadilah diri lo sendiri, biarkan dia tau apa kekurangan disamping kelebihan yang lo punya. Gue berani jamin, dia pasti bakal lebih bisa ngertiin dan nerima lo apa adanya. Percayalaaahh... (sfx: God's Voice)

     Nggak ada yang terbaik di dunia. Nggak ada yang lebih baik dari apa yang udah lo miliki saat ini. Saat lo nyari yang terbaik, yang lo dapetin adalah yang terbaru. Dan akan berlaku seterusnya. Yang terbaru, sekilas emang keliatan terbaik. Kenapa? Karena lo belum pernah ngerti sebelumnya. Tapi seiring berjalannya waktu ending-nya bakalan sama. Lo bakal nyari yang 'lebih-baru' lagi. Perasaan bosen, kesel, marah, kecewa, dan cemburu itu alamiah. Nggak bisa kita hindari. Pun saat kita menjalin hubungan dengan siapa aja. Bodoh kalo lo nyari yang terbaik dari yang udah lo miliki sekarang. Bodoh kalo lo ninggalin pacar lo buat nyari yang lebih baik. Iya, bodoh.

    Akhir paragraf. Bagi gue, dewasa itu bukan ketika lo punya pola pikir lebih matang daripada pasangan lo. Dewasa itu adalah, lo yang siap dan berani tumbuh menjadi pribadi dewasa bersama pasangan lo. Rintangan dalam hubungan akan selalu ada. Batu kerikil pun akan selalu menghampiri. Yang jadi masalah; Apakah mimpi yang udah susah payah kesusun hingga membumbung tinggi bakalan runtuh hanya karena sebuah kerikil? Lo dan pasangan lo yang tau jawabannya. Bye.

Sunday, 18 January 2015

Pengetahuan Kadang Menghancurkan

"Untuk beberapa hal, nggak tau itu justru lebih baik daripada tau banyak."

     Yap! Itu yang pengen gue obrolin. Gue dapet ide nulis kali ini dari hasil pengamatan gue. Mungkin rada-rada subjektif sih, tapi kebanyakan "yang-gue-liat" kek gitu. Sebelumnya gue mau ngucapin makasih dulu nih buat pihak-pihak yang sengaja gue libatin di tulisan ini. Sekalian mau minta maaf juga kalo misal ada yang ngerasa. "Misal", lho iki. Posisiin diri lo sebagai karakter lain ditulisan gue karena nggak selamanya "lo" adalah orang yang ada didalam tulisan gue. Tenang, kerahasiaan identitas kalian gue jamin kok. Gue bukan tipe orang yang suka bongkar aib, kalo bongkar-bongkar kenangan sih... ah, sudahlah. Lanjut.

     Suatu ide itu muncul dari sebuah kegelisahan (Kalo lo pengen jago nulis, banyak-banyakin gelisahnya. Gitu). Gue percaya. Karena kebanyakan dari apa yang gue tulis di blog, adalah ejakulasi dari kegelisahan-kegelisahan gue. Oke langsung aja, berhubung ini bukan blog reproduksi manusia, apalagi yang mau gue bahas kalo nggak seputar cewek (sekali lagi, ini bukan blog reproduksi manusia).

     Belakangan, gue sering ketakutan, gue ngerasa sendirian, gue butuh perlindungan (Udah alay belom?). Gue bukan takut sama cewek (APALAGI SAMA COWOKNYA YANG NGGAK SEBERAPA ITU! HAH!). Tapi nggak berarti juga gue berani. Yanggak mungkin kan gue ber-durhaka sama orang yang bawa surga ditelapak kakinya (halah!). Gue, sebenernya takut sama rasa sayang cewek ke cowoknya. Yang kadang berlebihan. Nggak terkontrol. Membabi-buta. Gue aneh ya? Orang si cewek punya rasa sayang malah ditakutin. Maklum, namanya juga seorang anti-mainstrim. Emang beda dari yang lainnya. Oke, ini gue cerita berdasar dari apa yang (sering) gue liat. Cowok-cewek, didalam kamar berdua, kunci pintu. Pada ngapain coba? Main catur? Main kartu uno? Apa mungkin belajar masak? Kalo belajar masak kayaknya nggak mungkin deh. Aaa, mungkin pada ngerjain tugas kampus (yang ini parah). Nah, lo pasti ngertilah apa yang gue maksud. Jujur, gue ngerasa iri sih enggak, kalo cemas, iya... banget. Jangan-jangan yang lo cumbu itu istri gue kelak. Jangan-jangan yang lo usap perutnya pake tissue itu pasangan guweeehh (oke, terlalu berlebihan).

     Emang, cewek emang nggak pernah mikir. Dan cowok, nggak pernah bisa ngerasain (Frontal, frontal deh. Lagian gue ujian udah kelar kok. Ketemu sama temen-temen juga masih sebulan lagi. Abis nge-post gue mau di rumah terus aja. Biar aman. Biar nggak ditampolin.). Bagi gue itu bukan definisi sayang. Sadar, Bep. Sadar. Kamu baru nanem biji jarum di tanganmu, di bibirmu, di lehermu, di pundakmu, di sekujur tubuhmu. Saat pacarmu yang kayak lumut rawa itu pergi, kamu bakal kesakitan nyabut satu persatu jarum yang terlanjur ketancep. Percaya sama aku, Bep... (Eh, ini pada ngapain ya? Kok ngeliatin gue semua? Oke! Gue bukan makhluk suci bukan juga sok menyucikan diri. Gue sadar, gue banyak dosanya. Kemaren kambing pak RT bunting diluar nikah... tapi gue tetep tanggung jawab kok!).

     Bukan cuma sekali-duakali yang gue liat. Bukan cuma yang nggak kenal aja yang gue amatin. Jogja itu luas. Jogja itu istimewa. Jogja itu kota pelajar. Ya, memang dikhususkan untuk orang-orang yang berminat untuk "belajar". Gue beruntung bisa belajar, ketemu, dan kenal sama berbagai-macam-tipe-bentuk cewek dari yang ke-cabecabe-an, semi ke-cabecabe-an, sampai yang ke-ibuibu-an. Tapi kadang, 'lo-tau' itu bukannya nenangin. Tapi malah menciptakan ketakutan-ketakutan baru. Jadi ibaratnya nih, lo seakan-akan bentuk suatu benteng pertahanan berlapis yang bahkan lo sendiri aja ragu buat nembusnya. Pernah ngalamin kek gitu? Toss! Gue baru dititik itu. Yagimana mau gerak ke negeri sebrang, kalo untuk ngelewatin benteng lo sendiri aja masih ragu, kan?

     Sometimes, hal yang udah lo dapet dan pelajarin, malah ngubah pola pikir yang tadinya kesusun rapi jadi berantakan. Yang tadinya lo yakin, jadi ragu-ragu. Yang tadinya lo nggak punya pikiran apa-apa jadi mikir, "Ah, mungkin dia nggak beda jauh sama cewek-cewek yang pernah gue temuin." Lo tau apa yang menyedihkan dari sebuah stereotip? Itu nggak melulu dari apa yang orang lain omongin, melainkan dari apa yang lo pikirin. Emang ya, parah banget gue. Perlu dikasih perlakuan khusus. Harus dirujuk ke Panti Rehabilitasi Hati dan Gangguan Perasaan. Kalo beneran ada gue bakalan masuk nih kayaknya.

     Gue rasa, itu yang bikin gue masih ambil 1000 pikir kalo ngomongin masalah hati. Selain belum nemu yang pas (walaupun entah yang 'pas' itu yang kayak gimana), dan belum ketemu sama yang bisa ngimbangin gue juga (yakeles, lo pikir timbangan beras). Buat saat ini it's okay sih jadi jomblo (single-elite lebih tepatnya). Nggak buruk-buruk amat. Gue jadi punya lebih banyak waktu buat nyembuhin stereotip gue tentang 'cewek', kalo didunia nggak ada yang sempurna. Semua diciptakan dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing.

     Cerita dikit, ah. Perasaan iri itu manusiawi. Sesekali gue iri sama yang, itu tuh yang pada pasang-pasangan. Bukan iri karena intensitas keluar-masuk kosannya, bukan juga karena cantik apa enggak si ceweknya, tapi karena langgengnya. Kerena awetnya. Pacaran sampe tahun-tahunan... (tapi nggak dilamar-lamar. Udah kayak kredit motor yang nggak lunas-lunas. Ironis). Lah gue pacaran paling lama cuman setahun, abis itu bubar. Itupun terakhir kali pas SMA, sekarang udah kuliah semester 5, dan masih tunggal sejak saat itu (re: SMA). Menurut data statistik, percintaan gue menurun drastis. Eh, ini seriusan lho. SMP aja pacar gue kakak kelas kok (DAN LO BANGGA, HAH?!).

     Kalo sekarang sih dari gue sendiri lebih kearah ((( belum begitu ))) mentingin persoalan hati dulu (tapi kalo ada yang ngajakin pacaran, hayuukk). Aku masih kuat bertahan dengan semua keadaan ini, Bep (halah!). Lo semua kan tau, sesuatu yang udah jadi kebiasaan nggak mudah buat ditinggalkan. Begitupun kalo lo udah kebiasa ngejalanin hidup sendiri (ah elo, Bal. Tahunnya aja yang ganti, hati masih tetep sama. Kosong, hampa, tandus). Dan sialnya, gue perlu belajar lagi buat nerima orang lain masuk kedalam hidup gue. Nobody said it was easy kalo kata Coldplay. Nah, sejauh halaman 18 di tahun 2015 ini, ada sih satu orang yang bikin IQ gue mendadak jongkok 100 tingkat. Namanya... ah, nggak jadi aja lah. Entar dia GR kalo namanya gue tulis disini. Lagian gue juga udah jarang ketemu, saling SMS pun tidak... walaupun sebenernya gue pengen SMS, tapi nggak berani. (Pih! Lakik macam apa kamu ini. Potong aja itu, sampe pangkalnya!). Doi orangnya banyakan serius. Tapi kalo udah kejebak jokes dari gue, luruh semua tuh seriusnya. Momen yang gue suka, apalagi kalo bukan pas dia lagi serius. Terus, momen yang selalu sukses bikin gue susah tidur adalah, ketawa lepasnya (Namanya juga orang baru jatuh cinta, biarkan hormon yang berkerja). Tapi berhubung gue masih dalam proses belajar buat nyembuhin stereotip yang fakyu ini, dan daripada gue terburu-buru deketin dia tapi ujung-ujungnya cuman jadi kakak-adek, gue biarin dulu aja dia melanglang-buana, nyari sesuatu yang menurut dia dia pantas untuk ditemukan. Initinya, gue percaya aja sama dia. (PERINGATAN: Waham membunuhmu!). Gue cuman mau ngasih beberapa kalimat buat calon pasangan gue yang masih remang-remang, biar entar dia nggak kaget sama "aku" yang se-aslinya; Aku adalah laki-laki dengan benak yang berbeda. Kamu mungkin bisa menemukan seribu laki-laki yang melebihi kemampuanku, tapi tidak dengan caraku berpikir, tidak dengan caraku mencintai kamu.

     Well, selalu ada sisi positif dalam hal apapun. Dari lo yang nggak tau apa-apa, dan dari lo yang tau banyak. Saat lo "nggak-tau", seenggaknya lo bisa menikmati nyamannya ketidaktahuan. Kadang, malah lebih nikmat sih ya? Kemudian, saat lo diposisi "tau-banyak", lo nggak bakal gegabah dalam menentukan pilihan. Lo bisa bedain, mana barang KW mana barang ori, mana yang cuma sekedar suka mana yang bener-bener cinta.

     And, last paragraph. Nothing is more attractive than a man who is fully committed to his woman. No matter how many females are drawn to him. His eyes, ears, and hands, remain on his woman (thanks google-translate, you are doing it right). Bye. (:

Tuesday, 30 December 2014

Tentang Pekerjaan

     Desember. Bulan yang bisa dibilang banyak peringatan. Dari hari AIDS sedunia, hari Ibu, hari Natal, hari jadian (bagi yang ngerayain), hari putus (kalo iya, pasti pada nyepi nih di rumah), dan perayaan nunggu tahun baru juga dibulan Desember lho. Udah pada tau belom? Oke, gue rasa cukup basa basinya. Langsung ke isinya aja. Emang ya gue nggak bakat buat basa basi. Bulan Desember ! BULAN INI GUE BANYAK KERJAAN. NYUSUN SKALA. DARI NYARI DASAR TEORI, BIKIN ITEM SKALA, NYEBAR SKALA, DAN BERAKHIR PADA NGITUNG DI PROGRAM SPSS. YAAA... LUMAYANLAH BIKIN RAMBUT KRITING (ada yang mau nemenin gue ke salon buat rebonding?). EFEKNYA, GUE JADI TERSENDAT BUAT BIKIN POSTINGAN DI BLOG. KALO UDAH GINI, SALAH SIAPA COBA? SALAH GUE? SALAH TEMEN-TEMEN GUE?

     OKE DARIPADA (eh, sorry caps-locknya masih nyala) nyari siapa yang salah, mending ngobrolin hal lain aja. Nah, karena gue baru banyak kerjaan, kali ini gue mau bahas kerjaan yang gue impiin kelak. Sebelumnya, gue nanya. Kerjaan yang kalian suka apaan? Jangan bilang tiduran, makan, nonton tipi, main PES, ulangi dari awal lagi (*perasaan ini kerjaan gue semua deh*). Kerjaan yang gue maksud adalah kerjaan yang datengin ijo-ijo (baca: duit) atau se-enggaknya kerjaan yang bikin idup lu dan idup orang lain berharga. Misalnya jadi pejabat, pegawai negeri, militer, pekerja kantoran, atau mungkin milih jadi freelancer? Ya itulah beberapa kerjaan dambaan tiap orang (kecuali yang terakhir). Gue yakin, sebagian orang udah pada bikin planning mau kerja kemana, sebagiannya lagi masih bingung besok mau kerja apa dan dimana.

     Hmm, kalo gue ngomongin orang-orang yang udah punya planning kerja dimana, sama aja postingan gue berakhir sampai sini dong. Lha yo, apa yang mau dibahas lagi kalo rencananya aja udah jelas? Bener nggak? Tapi berhubung gue ngetiknya baru setengah halaman, terus biar postingan gue keliatan panjang juga, gue mau ngobrolin orang-orang yang masih bingung kelak mau kerja dimana. Contoh orang yang masih bingung mau kerja apa dan dimana adalah... gue sendiri (trak-tak-dum-tss !).

     Beberapa waktu silam (biar kesannya sejak jaman Genghis Khan), gue baru kuliah Manajemen Organisasi. Disitu dosen Manis (eh ini seriusan lho, dosen Men-Or gue manis biarpun udah punya suami, semacam Mama-Mama sosialita gitu) baru cerita pas dulu kerja di perusahaan. Nah, gue sama temen gue bukannya dengerin, malah debat tentang kerjaan. Sampe gigit-gigitan kuping, cakar-cakaran tangan, dan saling lempar feses masing-masing (oke! yang ini jijik, asli). Temen gue dengan segala ke-kekeuh-an argumennya bilang, bakal kerja dikantor dengan fasilitas mewah dan gaji yang besar (kasih applause dulu dong buat temen gue, dia bakal jadi orang kaya lho). Tapi gue nggak sependapat. Gue punya pendapat lain. Pendapat gue, gue nggak mau kerja kantor full tiap hari. Pulang larut malam, ngorbanin Qtime gue sama keluarga, ngerenggut kebersamaan gue sama anak dan istri gue. Tujuan idup gue kan bukan buat kerja. Gue idup buat bahagiain keluarga dengan cara bekerja. Ini gue nggak nganggep enteng kerjaan lho ya? Gue setuju kalo pekerjaan itu penting. Tapi bagi gue nggak lebih penting dari keluarga. Gue butuh main sama anak-anak gue, gue butuh refreshing bareng istri-istri (eh, maksudnya istri) gue, liburan ke rumah Emak-Babe gue. Gue sadar, emang nggak mungkin ada kerjaan yang bisa 'semau gue'. Kecuali kalo lu jadi businessman ato entrepreneur ato freelancer. Itupun juga tetep ada ketentuan yang nggak seutuhnya bisa semau gue. Yaaa... buat saat ini, semuanya masih jadi impian gue. Entah, kelak.

     Gue punya cerita. Masih sekitar kerjaan. Nih cerita pernah gue denger dari, siapa lagi kalo bukan si Pemberi Wejangan yang melulu ngasih siraman tiap gue pulang ke rumah. Emak. Dan sesuatu yang gue ambil, kebahagiaan nggak selalu berpatokan pada seberapa banyak ijo-ijo yang lu dapet, atau seberapa tinggi jabatan yang lu dudukin. Temen Emak gue, dosen. Kuliahnya udah nyundul awang-awang. Lu bisa bayangin tuh kerjaan seorang dosen gimana. Pasti dulunya waktu jadi mahasiswi, otak dia encer. Yang jelas beda jauh dibanding gue (lah gue mau nyari nilai B aja, berat perjuangannya ngelebihin Romusha). Oke, sampe situ gue iri! Dia adalah orang paling beruntung sedunia ! Gelarnya berkelas, gajinya rata-rata keatas, bisa dibilang premium highclass. Tapi itu yang orang lain liat. Nah, terus apa artinya si gelar, si ijo-ijo, dan si jabatan digadang-gadang, kalo didalam keluarga cuman jadi pecundang? Diperbudak pekerjaan, sibuk nyari gelar, sibuk nyari ijo-ijo, ngorbanin suami, ngorbanin keluarga? Bagi gue, nol besar ! Apalagi dia adalah perempuan. Yang bisa dibilang 'soul-nya' keluarga. Bagian terpenting dari sebuah rumah tangga. Emang sih, kita nggak bisa idup tanpa uang. Tapi juga jangan terlalu bodoh berpikir kalo idup bisa dibeli dengan uang.

     Gue idup udah 20 tahun. Waktu yang terlalu sia-sia kalo cuman digunain buat nge-game, main PES, dan main Stronghold (lambemu, Bal). Dan selama itu, gue udah ngeliat beberapa contoh cerita semacam itu. Orang-orang kaya, orang-orang yang sukses di pekerjaan, dan yang punya jabatan tinggi, kalo didalam keluarga gimana, perannya kayak apa, dan seberapa penting dia buat keluarganya. Selalu ada yang dikorbanin dalam setiap kesuksesan. Entah keluarganya, entah pekerjaannya, entah juga yang lainnya. Gue percaya kalian juga punya cerita yang mirip kayak cerita gue itu. Selebihnya, tinggal gimana kalian buat milih; sebagai contoh buat orang lain atau sebagai orang yang belajar dari contoh orang lain.

     Terus,  dari apa yang udah gue obrolin ini, gue nggak bersikap stereotipe loh ya? Nggak semuanya kayak yang gue omongin. Kesannya ntar gue kayak jelek-jelekin, padahal kan enggak. Banyak juga orang yang sukses di pekerjaan, sukses juga di kehidupan. Pak Habibie, misalnya. Kalo kalian tau, sebenernya gue nulis gini tujuannya cuman satu; buat reminder ato pengingat gue aja. Kelak kalo gue udah kerja, gue harus lebih mentingin istri dan anak gue. Hanya gitu tujuannya (bangke kan gue?). Nah, kalo kalian mau nimbrung ikutan, ya monggo. Kalo cuman sekedar baca aja, ya monggo juga. Emang gue pernah maksa? Gue kan penodong. Dari semua yang udah gue obrolin, sebetulnya gue masih bingung juga kelak mau kerja apaan ato kerja dimana (kalo lu masih bingung juga, selamat ! kita se-aliran). Dengan gue nulis kayak gini, nggak tau kenapa gue bisa ngerasa sedikit lebih lega (ehm, sorry curhat dikit).

     Next. Jangan ngasih gue label seorang motivator atau penceramah atau yang semacamnya. Jujur aja, gue nggak suka. Dan sorry, disini gue nggak menempatkan diri gue sebagaimana yang telah saudara sebutkan (<< gaya bahasa gue waktu ngelakuin praktikum nih). Gue cuman nyeritain hal yang udah gue dapet, hal yang gue pelajarin, dan hal yang jadi impian gue kelak. Terus, jangan lupain juga Tuhan sebagai Maha Pembuat Keputusan. Gue kan bisanya cuman ngerencanain, ngimpiin, dan ngarepin (usaha juga pastinya). Persoalan ACC ato enggak, Tuhan yang mutusin. See, Bep? Aku nggak semegah yang kamu dan orang-orang liat kan? Aku adalah aku yang cuman pengen ngajakin kamu jadi pribadi sederhana, bukan berarti berkekurangan, tapi cukup buat kita dan keluarga kecil kita (NB: Cukup itu relatif. Misal, bagi sebagian orang 10 jeti itu cukup. Berlebih malahan. Tapi kalo bagi gue belum. Masih kurang. Nah, gitu cara mikirnya. Hahaha).

     Oke, sekarang tanggal 30 Desember 2014. Akhir tahun, woy ! Yang mau ngabisin malam setahun sama pacarnya, hati-hati ya. Buat yang cewek, jangan mau diajakin ke tempat sepi sama cowoknya. Ntar diajak gituan, lho. Terus buat para Tuna Asmara, masih ada Emak ato Babe yang bisa lu bahagiain. Sekali-kali, ajakin kek malam tahun baruan. Nah, yang terakhir buat yang udah nggak punya Emak ato Babe, recommended banget nih nyambangin makamnya. Yakalo syukur-syukur bisa sekalian bersihin makam, terus nge-doain. Gitu. Itu aja yang pengen gue bagi ke kalian (postingan akhir tahun gue nih), lain waktu gue bagiin lagi cerita gue yang lain. Selamat tahun baru 2015. Bye.

Sunday, 30 November 2014

Ngejomblo? Kok kuat sih?

"Ngejomblo? Kok kuat sih?"

     Dari sekutil pertanyaan diatas, gue percaya bakal lahir banyak jawaban dan alasan. Contohnya; yabaru memantaskan dirilah, yapengen bahagiain ortu dulu-lah, yadilarang sama agama-lah, yanggak boleh sama ortu-lah, yabelum nemu yg pas-lah, yamasih kecewa gara-gara gebetan ditikung temen-lah, yatetep nunggu gebetan putus sama pacarnya-lah, yamasih ngarepin mantan-lah, begitupun seterusnya yang semakin kebelakang, alasannya semakin nggak logis dan menyedihkan.

     Sebelum gue digebukin gara-gara bisa nebak kenapa kalian berstatus "Jomblo" (cie yang ketauan alesan ngejomblonya), gue lurusin dulu. Nggak ada yang salah dari semua alasan yang udah gue tulis dan yang kalian pilih (sebenernya biar gue nggak digebukin aja sih ini). Kalian punya hak berpendirian, berjawaban, dan beralasan sendiri terhadap apa yang jadi keyakinan kalian, termasuk yakin kalo diumur sekarang kalian belum memiliki pasangan (HahahafaG!).

     Ngejomblo. Kadang ada sih beberapa orang yang nggak terima statusnya dibilang jomblo, maunya dibilang "Single". Padahal intinya sama aja kan ya? Sama-sama selo, sama-sama nggak punya pacar. Tipe-tipe manusia gini nih yang ngerepotin. Susah urusannya, susah nerima keadaannya. Contohnya, bukan gue dong. Gue kan... "Single-Elite" (wuanjir, makin ngerepotin itu, cuk!). Lagian juga udah jadi rahasia umum kalo, single itu adalah jomblo yang diperhalus penggunaan tata bahasanya (*macak guru bahasa *). Tapi satu hal yang bikin single itu beda sama jomblo. Single itu karena prinsip, tapi kalo jomblo emang udah nasib (Kan, mulai ngerepotin).

     Ngejalanin hari-hari tanpa pasangan, bagi gue ya kuat-kuat-nggak kuat. Tapi dikuat-kuatin (mekso banget bahasane). Itu cuma salah satunya. Salah duanya, sebenernya gue lebih sering ketawa sendiri sama diri gue. Temen-temen yang lain aja udah pada bergerak nyari buruan, lah gue masih ngurusin blog-lah, kelayapan di-sosmed-lah, nge-game-lah, nongkrong-lah, futsal-lah. Lah, pas waktu buat nyari buruan, gue gunain buat tidur gara-gara kecapekan ngelakuin hal-hal tersebut. Lucu aja gitu bikin penilaian ke diri sendiri. Semacam pekok or... ah, whatever -lah. Eh bdw, kalian pernah bikin evaluasi ke diri sendiri nggak? Kalo belum pernah, cobain. Asli, kadang malah jadi ketawa sendiri. Suher.

     Gue belum bergerak nyari buruan bukan karena gue nggak mampu loh ya? Bisa sebenernya. Single-Elite, je . Tapi ada beberapa hal yang lebih penting, yang belum bisa gue tinggalin. Temen kosan gue, salah satunya. Kalo ((( semisal ))) gue punya pasangan, otomatis semua jadwal gue berubah. Dari berkurangnya gue main PES, berkurangnya waktu nongkrong, efeknya ntar gue nggak diajak ngobrol pas ngangkring, gue dikucilin (lebih parah dari nggak punya pacar, kan?). Yabagi gue sih, seorang yang bener-bener temen, cukuplah buat ngobatin rasa sendiri karena nggak punya pasangan.

     Selain itu, gue juga percaya kalo cinta itu ((( nggak perlu dikejar ))), ntar dianya malah menjauh. Biar cinta itu yang dateng sendiri karena kerelaan diri. Tugas kita kan berjuang bukan ngejar. Itu dua hal yang beda. Berjuang itu lebih identik dengan mempertahankan. Sedangkan ngejar, itu lebih ke arah memaksa. Dan setiap individu dalam memperjuangkan hati seseorang, punya cara dan gaya yang beda satu sama lainnya. Human characteristics.

     Emang ya, perjalanan hidup kadang bisa ngubah cara berpikir seseorang. Curhat, ah. Dulu, dulu banget (kira-kira sebelum Tahun Gajah), gue pernah suka sama cewek. Dia seorang yang baik, cerdas, orangnya nyenengin kalo diajak candaan. Sampe tiba saat yang gue kira itu adalah waktu yang tepat. Tapi apa boleh buat, gue udah terlanjur bilang kalo gue suka sama dia. Perasaan gue yang meletup-letup akhirnya pecah. Dan buah dari semua itu adalah, cinta sepihak. Yakalo sebelumnya gue udah tau bakal ditolak, mending gue jadi secret admirer-lah. Yang udah pasti selalu bisa ngeliatin secara langsung senyum hangatnya dari balik canda. Bukan nge-stalk dari akun sosial medianya. Yanggak? (mungkin sebab itu yang sering kebawa gue sampe sekarang). Setelah itu gue coba ngejar dia. Gue percaya batu yang keras bakalan luluh karena ke-konsisten-an tetesan air. Tapi gue salah. Karena ada beberapa jenis batu yang nggak gampang pecah. Batu permata, misalnya. Yaitulah sekilas cerita kejar-kejaran gue dulu. Dari situ gue belajar satu hal, kita nggak bisa maksa. Nggak peduli mau 2 tahun kek, 3 tahun kek, atau berapapun tahun-tahun yang udah kelewat karena lu abisin buat ngejar dia, buat berjuang menangin hati dia, kalo dari dianya aja udah nggak suka sama lu, ya selamat kalo gitu. Lu adalah Pejuang Cinta Sepihak yang sejati. Semoga lu bahagia hidup didalam imajinasi (ini kok kesannya kayak gue baru nyindir diri gue sendiri, sih?).

     Sekarang ini, gue lebih milih nikmatin apa yang ada didepan gue. Jomblo, ya gue bawa enjoy aja. Tiap pulang ke rumah ngeliat pasangan yang boncengan dijalan, ya gue telen mentah-mentah (status jomblonya lho, bukan orang yang boncengan). Terus liat temen pada main bareng, makan bareng, jalan-jalan bareng sama ceweknya, ya gue senyumin. Toh gue juga pernah kok... tapi itu dulu. Gue anggep semua ini sebagai punishment atas segala kesalahan gue sama mantan-mantan gue (jangan pada ketawa lu, barisan para mantan). Kita impas loh ya.

     Well, kalo lu baca dengan seksama, lu bakal nemuin beberapa hal tersirat kenapa gue kuat jalanin hari-hari tanpa pasangan. Sebenernya ada banyak jawaban dari pertanyaan, "Kok kuat sih ngejomblo?" yang pengen gue tulis. Tapi sengaja nggak gue tulis banyak, karena (1) Gue capek ngetik di Ms.Word ber-page-page, (2) Gue ngerti lu bakalan bosen kalo baca kebanyakan, (3) Gue belum ngerjain laporan praktikum grafis, tugas inventori, bikin blue-print skala, dan tugas-tugas yang lainnya.

     Akhir paragraf. Kalo dari gue sendiri, mendingan jadi jomblo karena pilihan sih daripada punya pasangan karena gengsi sama teman-teman (gimme "NAH!", guys). Terus, jangan nilai gue sebagai orang baik karena sering ngasih wejangan. Nggak selalu. Semua orang tau, ngasih wejangan ke orang lain emang gampang. Lebih gampang daripada ngasih wejangan ke diri sendiri. Karena apa? Karena lebih gampang juga ngasih penilaian ke orang lain, daripada ke diri sendiri. Jadi intinya, belajarlah dari apa yang orang lakukan, bukan dari apa yang orang katakan. Untuk apapun hal, termasuk kenapa beberapa orang memilih berstatus... jomblo (udah jomblo, sombong lagi lu). Oke guys, lain waktu kita busukin lagi hal-hal yang emang layak disebut sebagai sampah. Bye.

Tuesday, 18 November 2014

Gelisah

     Sejujurnya gue nggak tau mau mulai darimana ngetik postingan ini. Disini gue cuma duduk - ngetik - delete - minum teh yang udah mulai dingin - ngetik lagi - delete lagi, dan seterusnya. Emm, guys, mungkin postingan ini nggak semenarik postingan-postingan gue sebelumnya. Bisa dibilang, gue curhat kronis dipostingan ini. Jadi gue ingetin dulu sebelum kalian nyesel ngebaca sampah curhatan gue. Oh iya, postingan ini juga nggak ada unsur lucunya. Sengaja nggak gue kasih, soalnya gue baru curhat. Fyi, gue kalo lagi curhat serius lho. Nah, kalo kalian ketawa, berarti bukan karena postingan gue, tapi karena kalian yang emang lucu.

     Gue nanya nih, pernah gelisah nggak? Sebabnya apaan? Terus cara kalian buat ngilangin gelisah gimana?

     Akhir-akhir ini gue sering ngerasa gelisah. Gue tau penyebabnya dan gue tau juga solusinya. Tujuan gue nulis kali ini, cuma mengejakulasikan gelisah yang udah mau muncrat. Soalnya, (1) Gue nggak punya temen curhat karena gue nggak gampang percaya sama orang. (2) Nggak baik juga nanem gelisah, nggak bakal berbuah. (3) Gue nggak mau kesehatan fisik dan jiwa gue terganggu cuman gara-gara gelisah yang gue empet sendiri. So, kalo kalian susah nemu orang yang bisa dipercaya, ejakulasiin lewat tulisan ke buku atau ke blog. Santai aja, dia nggak bakal nambah/ngurangin curhatan kalian. Apa yang kalian curhatin, ya itu yang dia ceritain.

     Terus dari awal gue nulis postingan di blog, nggak jenuh-jenuhnya gue ngingetin kalian buat ngambil 'something' yang perlu kalian ambil. Nggak perlu semuanya, tapi seperlunya. Seenggaknya jangan sampe hal yang gue alamin, lu alamin juga. Gitu.

     Gelisah gue yang pertama. Jujur sampe saai ini gue belum ngerasain bangga sama tempat gue kuliah. Beberapa temen yang gue tanya juga sama aja. Bedanya, sekarang mereka udah pada bisa nerima tapi kalo gue, agak belum bisa. Entahlah. Gue ngejalanin hari-hari kuliah itu kayak lu baru terdampar ditengah gurun Sahara yang terik, nggak ada air minum tapi lu kebelet kencing. Satu-satunya jalan supaya lu tetep idup adalah... minum air kencing lu sendiri. Kepaksa kan jadinya. Guys, jangan niru gue. Nggak selamanya gue adalah gue yang baik.
     Padahal, banyak yang bilang ke gue,"Masih mending, Bal. Kamu itu orang yang beruntung. Nggak sedikit orang yang pengen kuliah tapi nggak bisa kuliah." Oke, gue apresiasi motivasi mereka. Tapi kalo misal gue tanya balik, "Sekarang yang ngejalanin siapa? Tau nggak gimana rasanya jadi gue?" Dari situ gue nyimpulin satu hal, motivasi nggak selalu bisa bikin tenang. Harus ada sesuatu yang lebih dari motivasi, harus ada yang disebut peneduh jiwa. Karena beberapa orang ada yang nggak terlalu butuh seorang motivator tetapi butuh seorang yang menenangkan. Contohnya, gue.
     Gue sering nanya sama diri gue sendiri, apa gue ini termasuk orang yang nggak pandai bersyukur, orang yang kufur nikmat. Udah dikasih ini, minta ini. Ditunjukin jalan ini, milih yang ini. Mungkin aja. Gue jauh dari sempurna, dan kadang butuh waktu untuk bisa nerima sesuatu yang kurang sejalan, yang udah Tuhan gariskan dan yang Tuhan telah berikan.

     Oke, gelisah gue selanjutnya. Gue sering takut sama peran gue sebagai anak sulung. Kalo Tuhan ngasih pilihan ke gue, gue bakal milih jadi anak bungsu. Kenapa? Karena gue nggak perlu mikir gimana sekolah adek-adek gue, gimana gue bisa nyeimbangin ekonomi keluarga, belum lagi jadi contoh buat adek-adek gue. Ribet, cuk! Suher. Tapi ya, gini hidup. Kadang saling wang-sinawang (re: saling melihat ; Intinya, lu pengen jadi kayak dia. Dia, pengen jadi kayak lu.) sama orang lain.
     Kalo dipikir-pikir, Tuhan baik kok. Tuhan nggak bakal ngasih kita suatu misi kalo kita nggak mampu ngejalanin. Jadi bagi gue, Tuhan nempatin gue sebagai anak sulung demi suatu misi, yaitu jagain adek dan keluarga gue, nyeimbangin ekonomi keluarga gue, dan jadi contoh buat adek-adek gue. Eh, nulisnya gampang ya? Tau deh kalo pas ngejalaninnya. Mmm.. kira-kira itu sih yang selalu sukses bikin gue takut. Iya, takut kalo seandainya gue gagal dan nggak bisa ngejalanin misi dari Tuhan.

     Next. Hal yang bikin gue gelisah selanjutnya adalah... tentang pasangan hidup. Emang ya, persoalan anak muda itu nggak jauh-jauh amat dari yang model beginian. Kalo menurut psikologi perkembangan, kategori normal sih. Tiap usia ada tahap perkembangannya, dan gue cuma mengikuti hukum alam aja. Oke, dari apa yang udah gue tulis diatas itu, adalah sebagian alasan kenapa gue masih 'mencari' sampe sekarang. Gue nggak mungkin kan nyeritain kegelisahan gue sama cewek yang childish, over-manja, atau yang dikit-dikit nangis. Lalu apa jadinya nanti? Bener nggak? Sebab itulah gue milih.
     Gue tau, beberapa orang suka sama gue. Keliatan beda aja sih. Dari perhatiannya, dari cara dia ngomong, perilakunya ke gue. Dan emang sengaja gue cuekin. Bukan karena gue nggak suka, tapi karena gue udah tau kedepannya kita nggak bakal cocok. Menurut gue daripada ngasih harapan yang nggak jelas, lebih baik gue pura-pura nggak tau. Biar mereka sakit karena gue cuekin daripada mereka sakit karena rasa yang gue paksain. Entah balasan apa yang bakal Tuhan kasih ke gue karena nyia-nyiain mereka. Ya mau gimana lagi? Ada yang bisa ngasih masukan?
     Sejauh ini menurut pengamatan gue, ada sih yang bikin 'greget'. Tapi nggak banyak, itupun gue nggak bisa deketin. Satu aja gue nggak bisa. Kampret, kan? See? Sebetulnya banyak pilihan wanita disini, tapi nggak banyak yang 'unique', yang bisa bikin rasional gue kacau. Gue kasih tau dikit ya, saat seorang wanita bisa membuat kacau konsep dan pola pikirmu, secara tak langsung dia telah menakhlukkan kamu seutuhnya. Sebenarnya dia telah memenangkan hati kamu. Itu yang belum gue rasain. Sampe sekarang. Entahlah, ada yang salah mungkin didalem diri gue? Ato jangan-jangan gue homo? Ah, nggak mungkin. Si dedek masih suka tegap berdiri kok kalo pas ada cewek yang 'berkerudung nakal (re: jilbub)' di kampus.

     Masih banyak sebenernya gelisah-gelisah yang pengen gue ungkapin. Tapi kayaknya tiga aja cukuplah buat ngeluarin toksin-toksin didalam tubuh. Gue sadar, masih ada langit diatas langit, masih banyak orang yang punya gelisah dan masalah lebih berat daripada punya gue. Lewat tulisan di blog ini gue cuma nyampein hal yang bisa jadi mustahil gue lakuin dikehidupan nyata. Seorang kayak gue, curhat? Nggak banget kan ya? Tapi, inilah gue. Nggak selalu yang biasanya bikin orang lain ketawa, bisa bikin dirinya sendiri ketawa.

     Last paragraph. Gue nggak selamanya baik. Banyak sifat-sifat buruk gue yang nggak kalian tau. Makanya gue ingetin (buat anak gue kelak khususnya), ambilah sesuatu dari tulisan gue yang menurut kalian perlu diambil, karena nggak selamanya gue ngasih contoh yang baik. Sebelum gue menyudahi postingan ini, gue mau ngasih sedikit wejangan,

"Apa uniknya hidup jika jalan selalu mulus? Gelisah itu boleh, tapi jangan keseringan. Tuhan nyiptain kamu buat nikmatin hidup, bukan menggelisahkan hidup."

Oke, kalo kalian mau tau sifat buruk gue yang lain, jadilah pengikut gue di twitter. Bye. (--,)

Friday, 10 October 2014

Memilih adalah Bagian dari Hidup

"Kowe jomblo mergo kakehan milih neh." | "Lha, yo kuwi kudu to? Hahaha."
(kalo nggak ngerti artinya, tanya ke temen lu yang dari Magelang)

     Obrolan kali ini gue dapet dari nongkrong bareng temen-temen gue. Sebenernya nih, gue juga nggak tau kenapa ya, kalo tiap nongkrong, gue selalu berusaha ngambil something unique. Entah apa yang baru diobrolin, perilaku abnormal temen-temen gue, dan apapun yang menurut gue hal itu tuh aneh. Semua itu bagian proses belajar gue. Dan gue lebih nyaman ngambil pelajaran (entah apapun itu) sambil nongkrong bareng temen-temen yang menurut gue sejalan daripada dengerin ceramah orang yang belum tentu bisa ngelakuin apa yang diucapin. Asik ya? Iya banget.

     Men-jomblo karena kebanyakan 'milih'. Bagi gue, memilih itu harus. Kenapa? Karena ketika kita memilih, berarti kita memiliki kriteria. Saat kita memiliki kriteria, berarti kita punya tujuan yang harus dicapai. Saat kita punya tujuan, kita akan berjuang untuk mendapatkannya. Dan kalo kata bang Rhoma, hidup adalah perjuangan. Itu artinya, hidup berarti tentang bagaimana cara kita memilih. Terserah mau milih yang baik, atau milih yang buruk. Apalagi kalo persoalannya udah nyangkut hal-hal yang berbau soulmate. Secara gue pribadi, gue pasti milih. What?! Nerima apa adanya? Enggak bagi gue. Nerima apa adanya hanya berlaku buat cewek yang udah jadi pilihan gue. Tapi didalam waktu memilih, gue nggak bisa ngasal, nggak bisa nerima apa adanya, dan gitu aja.

     Nih, gue kasih contoh (gue aja ya yang jadi tumbalnya). Gue milih cewek. Berarti, gue punya standard sendiri tentang cewek pilihan gue itu. Karena gue punya standard/kriteria sendiri, gue nggak bisa 'masuk-keluarin' orang kedalam aroma percintaan gue. Karena gue nggak bisa masuk-keluarin orang 'asing', nah makanya gue jomblo (atau single lebih sopannya). Itu menurut cara gue. Disamping itu, gue percaya tiap orang punya standard dan cara yang beda satu sama lainnya.

     Milih cewek. Gue ibaratin lu pembeli yang mau nyari buah Gandul (re: pepaya). Secara nggak sadar lu pasti milih yang gede, yang mulus, kulit buahnya nggak lecet-lecet, utuh, intinya yang mendekati perfect lah secara fisik. Dan kalo masalah mateng atau nggak mateng itu mah selera. Sama juga kayak milih cewek (re: belahan jiwa). Mau yang gede, yang mulus, yang masih perawan atau janda anak satu, itu selera pilihan. Nggak bisa dipaksakan. Nah, pas lu udah sreg sama Gandul pilihan lu sendiri, lu bayarin buahnya ke penjual. Barulah buah Gandul itu jadi milik lu. Nggak beda jauh ketika lu udah cocok sama Gandul *eh cewek maksudnya* pilihan lu sendiri. Lu bilangin ke Papah-Mamahnya kalo lu bener-bener cinta, atau dalam istilah adalah ngelamar (tapi dengan catatan si cewek mau di lamar sama lu, jangan asal ngluyur dateng gitu aja, muke gile lu).

     Itu semuanya yang saat ini baru nangkring didalam kepala gue. Terlepas dari semua yang diatas, gue pengen one shoot, heart-shoot. Sekali tembak, langsung nembus jantungnya. Bukan dengan nembak sana, nembak sini. Soalnya gue nggak mau, soulmate gue kelak punya banyak bekas tembakan cowok lain. Gitu.

     Nah, gue kan udah jelasin kenapa gue itu orangnya pemilih, di terakhir ini gue mau ngetik beberapa kalimat pesan buat orang yang gue pilih (biarpun belom ada, bodo amat),

Teruntuk kamu,
sebagian dari tulang rusukku yang terpencar,
yang entah sekarang ini baru baca postingan gue atau enggak, yang sebenarnya udah gue kenal atau belum, dan yang baru ngejomblo menikmati kesendiriannya atau malah baru di nikmatin sama cowok-cowok berengsek,

     Bep, aku nggak tau darimana kamu berasal, yang bakal nemenin aku ngebunuh waktu, ngelewatin hari sama-sama. Aku pesen, jangan kaget kalo sebagian rusukmu hanyalah seorang yang kayak gini. (Saat ini) Bukan orang yang kaya, bukan orang yang punya jabatan, ataupun bukan orang yang bisa jagain gaunmu tetep kering meski diluar ujan deres saat kita boncengan. Satu lagi, aku juga bukan orang ganteng (tenang, itu belum kok, liat aja kalo gaji gue udah gede pasti level ganteng gue bakal naik).
     Kalo dari segi mode, maaf Bep, aku bukan metroseksual. Bukan juga pengikut mode-mode pakaian distro kayak kebanyakan cowok. Aku hanya laki-laki sederhana, yang tetep junjung kesopanan dalam berpakaian. Sorry juga kalo aku bukan orang gaul, karena kenyataannya aku emang nggak ngerasa gaul.
Bep, banyak dari cewek-cewek yang aku amatin (menurut pandangan gue loh, bisa salah juga), yang punya pasangan, mereka cenderung bangga sama fisik, harta, ataupun jabatan yang dimiliki pasangannya. Itu emang nggak salah. Hak mereka.
     Tapi aku harap, kamu jangan kayak mereka, Bep. Bukannya apa-apa sih, tapi menurut aku, fisik, harta, dan jabatan, akan cepat layu. Aku pengen, kamu adalah seorang wanita yang bangga sama apa yang ada dikepalaku, yang jadi pemikiranku, dan termasuk pola pikirku yang 'menyedihkan' ini. Kenapa aku minta kamu bangga sama 'kepalaku'? Sebabnya sederhana. Fisik, harta, dan jabatan, semua orang bisa dapetin. Tapi kalo 'isi kepala', butuh trial and error yang panjang buat ngebikin dia jadi mateng. Terus juga, lewat kepala, aku bisa ciptain semacam dunia didalam dunia. Dan aku pengen ngasih kamu itu, semua duniaku. Ya, kekanakan memang, but I don't care.
     Bep, maafnya kebanyakan ya? Hahaha, ya maaf, aku cuma pengen kamu tau "iki lho, aku". Yang bisa jadi lebih menyedihkan dari seorang yang berusaha membuat orang lain ketawa. Satu hal yang perlu kamu tau, Bep, aku akan tetep nyari kamu. Entah kamu ada disekitarku, ataupun mungkin kamu baru diplanet unknown yang jauhnya berjuta-juta tahun cahaya dari bumi. Dan selebihnya, Tuhan adalah pemberi pilihan terbaik.

bukan siapa-siapa, hanya sekeping tulang rusuk yang mencari bagian tulang rusuk pasangannya,

gue

Guys, jangan takut memilih, karena hidup adalah pilihan. :)

Monday, 8 September 2014

Sahabat, aku 'Cinta'

     Mblo, nggak kerasa udah September aja nih, yes? Hmm... Awal bulan. Temanya kalo nggak gajian, ya harapan. Harapan baru loh, hudu palsu. Atau... masih sama harapan yang lama? Tetep ngarepin cewek yang nggak peduli sama lu contohnya. Ha-ha-ha.. :\

     Btw, harapan apa aja nih yang kalian minta sama Tuhan? Ah, gue percaya, pasti harapan kalian, harapan yang mainstrim (*buru-buru lari*). Palingan juga kayak, "Semoga lebih baik dari bulan sebelumnya."  atau "September, please good to me." atau "Wake me up when September ends (eh, itu lagu nding)." atau yang se-bangsanya-lah, yang udah pernah ditulis bulan-bulan sebelumnya. Hahaha, oke, menurut gue harapan kalian (meski pernah ditulis bulan sebelumnya) nggak salah. Yang salah itu, kalo kalian udah minta wish sama Tuhan, kalian terus lupa sama kewajiban. Iya, kewajiban sebagai 'barang' ciptaan-Nya. Well, di postingan ini gue nggak mau ceramah terlalu lebar. Cukup jidat orang-orang bijak aja yang lebar. Lagian ceramah itu bukan sawah (re: lahan) gue, tapi lahannya pak Ustadz. Kan gue sekedar nyerobot dikit aja. Hahaha. Berhubung masih awal bulan, kali ini gue mau ngomongin tentang harapan. Harapan gue ini bukan cuma sekedar 'harapan bulanan' yang rutin ditulis tiap sebulan sekali, kayak pengguna sosmed (lagu-laguan lu, Bal, kayak nggak sering aktif di sosmed aja. -_-). Itupun yang ditulis sama kayak bulan lalu. Hahaha.

     Oke, temanya masih nggak jauh beda sama ocehan-ocehan gue sebelumnya. Yaa, gue ngarepin punya pendamping hidup dari seorang 'yang gue anggep' sahabat. Bener kan kata gue, nggak jauh beda sama obrolan yang kemaren? Kenapa 'yang gue anggep', karena yang bisa ngasih 'gelar' sahabat ke seseorang itu adalah diri kita sendiri. Kita sendiri yang nilai orang, mana yang layak disebut sahabat, yang disebut teman, dan yang disebut mantan (*eh, yang terakhir becanda, tapi emang bener sih ya? :\). Tapi juga nggak nutup kemungkinan jodoh gue 'dari kalangan' orang yang gue benci, orang asing (semacam alien yang nyamar jadi cewek), atau mungkin dia yang sekarang masih bayi. Intinya, obrolan gue ini, cuma sekedar planning aja, gue bikin harapan sambil merajut mimpi dan menggugah asa untuk menyambut masa depan yang cemerlang serta gemilang (kurang lebay gimana coba?). Soal dikabulin ato enggaknya, sepenuhnya gue serahin sama Yang Maha Pen-skenario. Tuhan.

     Gue ngarepin pendamping hidup dari seorang sahabat bukan tanpa alasan. Selama ini gue udah nimbang-nimbang (pake timbangan beras), dan gue ngerasa dapet pencerahan (tapi bukan karena nama kampus gue jadi tokoh utama di pilem 'Sang Pencerah' loh ya? :\). Gue ngerasain aja, gue bisa bebas jadi diri gue sendiri waktu sama orang yang udah gue anggep sahabat. Terlebih lagi bagi yang cewek (Lah, ngapain bahas yang cowok? Salah-salah entar gue dikira homo). Mungkin bagi yang nggak kenal, pasti akan nilai gue itu orang yang cuek, masabodo-an, dan terlihat asing (kayak makhluk dari planet Namec, gitu). Ya gue paham lah, dan emang sengaja gue lakuin. Tujuannya satu, gue pengen liat penilaian mereka ke diri gue. Mereka kasih nilai ke gue cuma dari 'covernya' aja, atau 'isinya'. Ada sih, yang bisa nilai 'dalemnya' gue. Tapi kebanyakan cuma dari covernya aja. Hahaha. Dan penilaian mereka pasti berubah setelah 'kenal deket' sama gue. Itu yang udah gue coba berkali-kali sejak SMA sampai saat ini. Hasilnya, penilaian pertama mereka salah. Kebanyakan nih, cuma ngasih penilaian dari sisi yang nampak, terus langsung aja ngasih judgement. Okelah, terserah mereka lah ya mau nilai gue gimana. Itu namanya resiko. Dan resiko itu pasti ada, termasuk penelitian bangke gue tentang cara pandang orang (yah, terbongkar deh rahasia yang gue jaga selama ini). Oke balik ke obrolan awal.

     Bebas jadi diri sendiri. Mungkin bagi kebanyakan orang, itu nggak begitu penting. Mereka lebih milih meng-ilusi-kan dirinya dibanding jadi 'wujud' aslinya. Contohnya, lu liatin aja yang pada pacaran. Emang mereka nggak pada jaim-jaiman, ha (Buat yang ngerasa. Kalo enggak, ya woles aja. xD)? (*clingak-clinguk* *mastiin sobat-sobat gue yang pada punya pacar nggak ngeroyok gue*). Apalagi yang masih SMA atau grade dibawahnya. Keliatan banget jaimnya. Nah, walaupun gue juga pernah jaim-jaiman (tapi itu dulu lho, dulu banget *biar kesannya udah sejak jaman purba*), gue udah tobat. Sekarang hidup gue kan anti-mainstrim, gue pengen cewek yang cinta sama gue itu, cinta juga sama kekurangan gue. Jadinya gue nggak perlu pake acara jaga imej kalo didepan dia. Gue adanya gini, ya gini. Nah, begitupun gue ke dia. Yah, gue pengennya sih nggak ada jaim-jaiman diantara kita. Dan gue nemuin 'something' itu waktu bareng sama sahabat gue. Kalo lu, gimana? :)

     "Cinta sama kekurangannya." Sebaris kalimat sederhana tapi ngena. Nyari kekurangan orang itu, paling mudah. Dan juga paling gampang diinget. Gue tau lah dikit-dikit kurangnya dari 'semua' sahabat gue, tapi bagi gue kekurangan itu nggak jadi masalah selama kekurangan gue juga nggak jadi masalah buat mereka (adil kan? hahaha). Emang sih, yang paling susah itu cinta sama kelemahannya. Dan the power of friendship terletak di-"bagaimana kita jagain kelemahan, supaya nggak jadi api pertengkaran". Gue pernah baca tulisan (karena... kalo gambar itu dilihat, suara itu didengar, dan hatimu itu dirasakan *eaakk* *oposih*), kurang lebih gini, "Kalo sebuah persahabatan telah berjalan selama lebih dari 3 tahun, mereka berpotensi untuk bersahabat seumur hidup." Entah gue baca dimana, bener ato enggak, sahih ato dhaif, gue lupa. Kalian juga nggak usah tanya. Intinya gue pernah baca kek gitu, udah, titik. Masuk akal sih. Gue rasa waktu 3 tahun, cukup lah buat 'kenal' sama orang. Nah, secara nggak langsing (*eh langsung), sahabat itu bakal nerima kekurangan kita, dalam dan dengan keadaan apapun. Itu yang gue rasain, tapi nggak tau deh gimana merekanya (Mwehehe :P). Logisnya (bukan logistik loh -_-), nggak mungkinlah gue ngasih 'gelar' sahabat kalo dari diri gue pribadi aja nggak bisa nerima kekurangan dia. Nggih nopo mboten?  Hahaha :D

     Dari atas tadi kan kita udah ngobrolin yang indah-indah tuh. Sekarang gue mau nge-banting kalian dengan resikonya 'punya hati' sama sahabat. Yap, apalagi kalo bukan friendzone. Fyi aja ya, sepengetahuan gue (soalnya gue belum pernah frenzon-an, kalo yang lebih parah, pernah :\) friendzone itu intinya saat lu ngeliatin mata cewek yang lu suka dengan penuh cinta, dan dia tau kalo lu suka, tapi dia ngeliatinnya biasa-biasa aja. Itu pedihnya dimana coba? Disini..!!! (*nunjuk mata*).

     Well, di blog gue ini gue nggak akan ngebahas cara-cara jitu keluar dari status frenzon. Itu udah terlalu mainstrim. Lu tinggal nyari di gugel aja ketemu. Nah, gue kan anti-mainstrim, solusi busuk dari gue cuman satu, dan itu juga pinter-pinternya lu buat nge-bikin se-kreatif mungkin (Asik kan? Lu boleh ngikut, boleh enggak). Kalo lu terlanjur suka sama sahabat lu sendiri tapi dia cuman nganggep sahabatan, cara buat narik simpatinya adalah... *sfx: suara drum* >>> buat dia terkesan sama lu (*trak-takk-dungg-tss* Emang cuma dia aja yang bisa bikin gue terkesan? Gue juga pengen bikin dia terkesan sama gue dong, mblo xD *gubraakk*). Iya. Buat dia terkesan sama keahlian yang lu punyai, dan hal apapun yang jadi hobi atau bakat lu. Pastiin dia yang lu sukai itu sadar semua usaha lu itu adalah untuk dia (nb: Kalo tetep nggak nyadar, timpuk aja pake batu bata. Woy! xD), dan lu ngelakuinnya karena dia (Tapi Tuhan tetep mutlak nomer setunggal loh ya? Gue nggak mau nampungin dosa-dosa lu, gara-garanya lu baca blog gue. Hahaha). Nih, sebagai contoh. Gue "pernah" suka sama sahabat gue sendiri, terus... (ah, sudahlah nggak ada yang perlu diterusin lagi. :\ ). Next, dan cara yang gue lakuin untuk bikin dia terkesan adalah... bener, semua yang lu baca ini, yang jadi pemikiran gue, dan berbagai hal yang ada di blog gue. Itu semua gue lakuin supaya dia terkesan sama gue. Emang sih, gue cuma pemulis amatir yang menyedihkan. Bahasa tulisan gue juga masih amburegul (re: amburadul). Tapi seenggaknya gue "pernah" usaha nge-bikin dia terkesan, walau akhirnya... (Eh, ini gue ngomongin apaan sih sebenernya? Out of topic banget deh. Bubar-bubar :\).

     Nah, kurang lebih yang udah lu baca itu tuh solusi busuk dari gue. Semisal nih, dia tetep nggak terkesan sama lu, ya lu positif thinking aja. Masih banyak orang yang mengagumi jerih payahmu, mengagumi karyamu, apalagi tujuanmu itu untuk membuat seorang yang lu suka jadi kagum. Hargai seseorang itu. Cintanya pasti putih sama lu. Tetntunya masih banyak solusi-solusi yang lebih cess-pleng daripada solusi gue. Tinggal lu rajin-rajin aja searching di gugel. Harapan gue sih, moga kasus frenzon makin dikit lah ya di Indonesia ini. Kasian gue sama mereka-mereka yang udah usaha tapi tetep aja fail. Kalo dari gue sih, semisal tetep gagal, nyari yang lain lagi aja (halah, sok-sok nasehatin lu, Bal. Ngaca woy, ngaca! -_-). Selama laut masih berair, lu nggak bakalan kehabisan stok ikan, mblo (emang jodoh lu ikan, ha?).

     Banyak persabatan yang berakhir jadi cinta, tapi jarang yang sebaliknya. Mungkin sebab itu juga yang bikin gue 'belum mau' berkomitmen, dan lebih milih banyakin sahabat. Itu bukan berarti gue nggak mau berkomitmen loh ya? Sekarang gue baru belajar aja jadi 'manusia'. Dengan kesendirian gue ini (ngenes banget ya kayaknya gue? :\), bukan berarti gue kesepian. Bagi gue, be alone itu adalah masa-masa buat kenalan, dan bikin komitmen sama ego gue sendiri. Ibaratnya gini, kalo sama diri sendiri aja gue nggak 'ngerti', gimana gue bisa ngertiin orang yang bakal dampingin hidup gue, terus gimana gue bisa bangun komitmen juga sama dia? Bener nggak? :D

     Selanjutnya, nih sengaja gue belokin dari topik. Ya, gue cuma mau nuangin 'isi otak' gue yang sederhana di satu paragraf ini. Jujur, sampai gue segede ini, mantan gue ada 3, rupa-rupa warnanya (yakeles, lu kira lagu, Bal? -_-). Gue bukan mau pamer atau sombong karena mantan gue banyak. Anggap obrolan gue di blog ini sebagai bahan pelajaran buat elu semuanya biar nasib lu nggak kayak gue. Next, mantan. Dimata gue itu layaknya guru. Ngasih banyak pelajaran ke gue. Dari mulai nyadarin ketololan gue, perasaan kehilangan, sampai penyesalan. Biarpun gue minta sama Tuhan seorang dari kalangan sahabat, kalo Tuhan ngasihnya dari seorang mantan, ya gue nggak bakal bisa nolak dong ya? Toh Tuhan ngasih gue yang terbaik kok, dan kadang itu bukan yang gue minta. Hehehe.


     Akhir paragraf. Cinta dan pendamping hidup itu rahasia Tuhan. Bener. Bagi gue itu bukan buat mainan dan buat coba-coba. Sekali lu coba-coba mainin 'mereka', lu yang bakal dipermainin sama 'mereka' dalam permainan lu (kata-katane njlimet yo ben :\). Kalo emang lu belum siap nerima, jangan pernah coba mainin 'mereka'. Kalo lu pengen belajar jadi dewasa, lu gali kedewasaan itu dari diri lu sendiri, dari lu ngaca. Dan kalo lu bilang untuk belajar berkomitmen, gue jawab, komitmen itu nggak perlu dipelajari. Itu udah ada sejak lu kecil. Kita lebih ngenal dengan nama 'niat'. Kalo lu emang niat, lu pasti komitmen. Dan niat itu adanya di dalem sini, di hati. Nah itu yang gue dapet dari selama ini gue bertapa dalam kesendirian dan merasa menyesal dalam kehilangan (biar keliatan sok puitis. xD). Oke, cinta bakalan buta tanpa komitmen, dan komitmen bakalan pincang tanpa cinta. Tapi, ada yang lebih tinggi dari cinta dan komitmen, yaitu... ikhlas. Bye. :)